Monday, 29 May 2017

12.00

Siang hampir melulu
Jalan raya disambut padat
Jadi tak bisa apa-apa
Sebetulnya ku bersama kembali di jalanmu
Petunjuk masih ada

Jalani rahmat dalam imanmu
Tak bisa menatap keramaian
Mengeruh wajah keringat semakin menetes
Siang mentari masih terik matahari
Mengelitik daun yang gugur
Inilah berseturu gigih jelang senja datang
Tak mau bermalas
Disana datangkan kebaikan yang melimpah

Surabaya, 28 Mei 2017

06.00

Subuh hampir habis
Rasanya fajar hampir hilang
Terangilah cahaya yang bersinar
Pelangi mengiringi kalbu
Sunyi dingin menderu air sungai

Seperti berangkat di sana sangat panjang
Meski jalan raya penuh padat
Sampai disana dengan selamat

Surabaya, 28 Mei 2017

04.00

Subuh telah datang
Saatnya bergegas
Daripada menjemput tidurmu
Yang bermimpi tentang cinta
Tunaikan shalat di Masjid
Melangkah pelan ketika tengah kabut dingin

Sebelum subuh tunaikan shalat sunnah dua rakaat
Lalu menunduk sujud syukur
Berusaha dan berdoa
Semoga fajar datang senantiasa semangat untuk perubahan
Tiada malas di hari yang cerah
Terbit pagi menyambut mentari bersinar
Sarapan merungguh perut

Surabaya, 30 Mei 2017

00.00

Tengah Malam
Mengulur tidur lelap
Mimpi mengalir di pikiranmu
Betapa cinta bergetih hati
Terhilir pada kumadangkan nada
Syair menghibur suasana tenang
Tak bangkit lagi
Akhirnya tanpa bangun
Sebelum berkekal di alam kematian

Surabaya, 28 Mei 2017

21.00

Malam menutup
Saatnya kembali ke Rumah
Sudah saatnya berpisah di sini
Melayup dening bertajuk daun
Menghirup nafas dalam
Meski bergelabah
Asa tenggelam pergi ke rumah
Gelap mengundang tidur
Meski cahaya tak temani lagi
Esok akan cerah lagi
Selamanya

Surabaya, 30 Mei 2017

Mengundang Sepi

Kini hening
Di tengah jalan yang kosong
Walau tempat rapuh
Gedung bekas reruntuhan
Warga hampir menghilang
Ku retak dingin menggigil
Berderu ampas yang membekas getih
Kemudian lari tanpa persimpangan

Begitu berwarna jika melantunkan nada
Percuma saja mengores pedihmu
Ku panjatkan doa
Lekas hening telah berakhir
Mengiringmu pergi
Bukan melirik syahdu sunyi
Ia kembali kaki yang menginjakmu
Sepi tak rasa mengubahmu pergi
Tanpa perantaraan

Surabaya, 28 Mei 2017

Masih Mendarat di Pamekasan

Memutar arah
Selalu kembali di sisimu
Pasti yang berlalu
Mendarat tepi laut lepas
Tak ada logika madura senandung syair
Perahu menyelusuri samudra
Seakan-akan air yang tersirna

Pamekasan, 22 Mei 2017

Anak Kecil Tersesat di Jalan

Ia terpisah dari genggaman tangan
Si kecil rela tinggal bersama orang tua
Mungkin sedikit menetes air mata
Ia rela membuang pikiranku
Dan temui jalan yang dipertemukan
Betapa manusia ramai di dalam
Akhirnya tersesat

Orang tua merasa kecewa
Bila mendesak kerumunan seperti ini
Lantas yang diragukan
Serta merujuk mimpi tersimpan di benahanmu
Pribadi tak begitu berguna
Berusaha diri untuk melangkah
Ingin melampui diri
Akhir ketemu
Lalu memelukmu indah
Suatu saat mimpi terus mengalir
Kembali pada anak dan orang tua

Surabaya, 28 Mei 2017

Monday, 22 May 2017

Sampai Jumpa SMA

: Keluarga Alumni SMA Negeri 10 Surabaya

Inilah peristiwa yang begitu terkenang
Selama tiga tahun lamanya
Meraih pembelajaraan begitu terkesan
Karena terdiam pada lenjutan emosi
Semua ini karena hari begitu termakan usia
Terima kasih tuhan
Telah kebersamaan selama ini
Lanjutkan di jenjang lebih tinggi
Semoga meluruskan rindu dan kenangan

Surabaya, 21 Mei 2017

Sepi si Pamekasan

Sepi di Pamekasan

Betapa jalan
Begitu sepi mencampur longgar  berlarut-larut
Malam yang tenang
Justru tak sebanding dengan kota lain
Bagaikan keajaiban yang tak pernah ada
Mengukus esok sangat cerah
Bercampur fajar yang membentang mentari
Lebih baik hening
Daripada kesunyian yang berderu lesu
Sungguh lepas dari penah
Rindu yang tak bisa terlupakan
Pada segalanya

Pamekasan, 21 Mei 2017

Tugu Clurit

Tempat untuk merasuki jin
Sering berkumpul untuk dibunuh
Tak menduga betapa penghuni adalah preman tak berdaya
Entah kenapa malam sunyi terlenyap oleh waktu
Sungguh kisah panjang yang tak pernah terselesaikan
Seperti preman membuat kegaduhan
Inilah susah payah menjerit otak
Mengukus clurit yang darah membekas
Di sinilah bundaran penuh tidak berdaya

Pamekasan, 21 Mei 2017

Jangan Sekali Mengingkari Janji

Kini permintaan tak ditepati
Sungguh menagih utang
Daripada terbawa waktu yang membuang sia-sia
Skenario hampir melenyapkan waktu
Hingga terjerumus kiamat di kubur
Sungguh benda hitam lebih berat dengan amalmu
Jangan pernah mengadili
Baru tahu rasa kubur mengubur hidup-hidup

20 Mei 2017

Friday, 19 May 2017

Tiada Satu Bintang

Sempat membuka layar
Berisi cobaan begitu menghambar
Bersimpang di dening berkalbu
Inilah bersilir ku kenang dalam samudra impian
Siasatlah tanah penuh berkubur
Ku berdening kesakitan
Habis dirayap kulitmu
Hingga lemah tak bisa bangkit
Sampai jumpa dirimu

Surabaya, 20 Mei 2017

Hari yang Menjengkelkan

Betapa manusia bersusah payah
Menghabiskan waktu dengan urusan yang berat
Betapa beban rasanya tertumpuk
Pagi hingga malam hampir terbelur
Bersimpang di menit yang jauh
Pergi dengan tangisan air mata
Yang mengiringi kepergianmu di tanah kuburmu
Jengkel akan menjelang kelumpuhan dirimu
Menuju tanah yang rakus sepertimu
Tanpa peduli terhadap duniamu

Surabaya, 20 Mei 2017

Puisi Tak Sekadar Biasa

Menghantar petir
Dibujang hujan yang biasa
Terulur benang sempat terikat
Mengilir senja dalam sebening puisi
Rembuk bulan yang meramu sedih
Bercampur benihan sebulir pasir
Inilah suasana hampir kosong
Hampa tanpa berdaya

Surabaya, 20 Mei 2017

Puisi Bukan Lagu

Puisi sekadar perasaan
Beserta ungkapan di hati
Tak sebanding melirik sebuah lagu
Lirik seperti puisi
Ia terkesan terbelah
Mungkin hanya tersesat di jalan

Surabaya, 20 Mei 2017

Sudah Tak Betah Bersamamu

Peka hampir lusut
Semua telah jalani
Meski gagal dalam ujian
Inilah menendang perasaan yang tak bisa lama-lama
Lebih baik cinta tak bisa disatukan lagi
Sebab semua itu berbeda
Inilah hambatan yang menyakiti diriku
Bukan saling menceloteh
Tetapi pasti tolak
Karena tak bisa bersamamu
Lebih baik sendiri
Daripada berdua
Mengajarkan kenyamanan, kesempurnaan, dan cinta
Lagu hampir tumpah
Dan buang begitu percuma

Surabaya, 19 Mei 2017

Tiada yang Mendekatiku

Aku hampir hampa
Dekati perempuan banyak menolak
Membuat susah payah berjodoh
Wajah murung memisahkan daun yang sudah lumpuh
Duduk lalu memendam air mata

Entah pagi hingga malam
Selalu tidak bisa menebari aku
Inilah petualangan jodoh telah gagal
Terkena jomblo berkali-kali
Bidadari sudah berusaha
Entah gagal dari penderitaan
Semua itu cobaan darimu
Karena semua itu hampir menetes mata
Inilah prosa cinta yang nggak bisa dilupakan

Surabaya, 19 Mei 2017

Tentram Hati pada Manusia

Sungguh nyawa
Menghambar kalbu
Ke dalam mimpi yang tak meluruskan
Lukisan yang memadukan
Antara cinta dan duka
Air mengembun kesabaran
Mengiringi sebuah lagu
Yang tersiang hampa
Menatap alam yang terpadu
Ingin menuliskan sebuah puisi
Ke sini untuk mengetik jari
Tidak lama-lama
Hanya bisa menatap rindu
Meringkis di alam keteduhan
Jiwa yang tenang
Gemuruh hati
Tanpa memendam rasa luka
Memohon padamu
Semoga rindu akan diluruskan
Sebagai alam semesta
Surga menapaki jejak
Untuk keluluhan jiwa yang hening
Setia kawan bagai benang menyatu

10 Mei 2017

Samudra Pena

Mengores lembar kosong
Imajinasi menyebur otak
Pikiran begitu jernih
Menata laut yang bergelombang
Tinta hitam menciptakan suatu karya
Mengembun fajar dihasilkan suatu tulisan
Jadi tulisan lebih murni daripada hendak menunggumu

Surabaya, 20 Mei 2017

Wednesday, 17 May 2017

Kain Kerudung Hijau Menghiasi Bunga Bros

: Nurul Fitriani Winarsih

Betapa alam hampir sunyi
Menebar angin bersama daun terbang di hadapanmu
Jalan pelan di sebelah pohon yang merimbang
Sentuh daun yang memesona
Datanglah angin yang mengipas kerudungmu
Hampir mengaris udara
Sampai cahaya yang terang
Menalar udara begitu mengembun
Benang bersatu sesudah lepas dari talinya
Hingga mengikat jadi satu
Kekuatan iman
Dan raga tetap berkobar semangatmu
Lari demi impianmu

Kerudung hijau
Menghiasi bunga bros
Hatiku sejuk
Dan kembali bermakna

Surabaya, 18 Mei 2017

Ruqyah

Sebuah kegiatan
Yang mengobati gangguan jin
Iblis, setan, dan makhluk halus lainnya
Ke dalam tubuh manusia
Saat doa dipanjatkan
Serasa gangguan hampir rasakan
Hilang kendali sampai membuang adegan secara cuma-cuma
Ustadz hanya mengobati berbagai gangguan jin dan manusia

Temani di suatu tempat
Untuk memulai suatu ruqyah
Pertama selalu menjanjikan pada Allah
Sampai gangguan hampir datang
Hendak jin mengeluarkan gerakan yang tak seimbang dengan manusia normal
Berusaha untuk keluar
Mendemgarkan ayat suci al-quran
Lalu jin tak lagi mendengarkannya
Hampir berasa
Jin akan mengusir perlahan-lahan dalam tubuh manusia

Akhirnya gangguan roh halus telah hilang
Meminum obat yang bisa memuntahkan jin dan manusia
Akhirnya manusia telah pulih kembali
Dan selamat melanjutkan aktivitas kebaikan

Surabaya, 18 Mei 2017

Memeluk Jeruk

Rasa hampir kecut
Sebuah jeruk memetik di matahari yang embun cerah
Serasa fajar hampir berlalu
Tiada daya yang melimpah
Perempuan hampir dekat pohon jeruk
Dapat satu buah
Sambil duduk membuka jeruk manis
Yang nikmat dan sahaja
Dan membatinkan hati yang bersih
Tiada daya melengkapkan anugrah tuhan
Manis bertabur bintang
Jeruk akan habis melayu
Sebelum basi dijilat busuk
Memeluk bukan hanya suka
Tetapi memeluk seumur hidupku

Surabaya, 11 Mei 2017

Kain Kerudung Panjang

Kerudung adalah setia
Mengenakan kain tenun
Dari puluhan benang dianyam
Kau seperti bunga yang merangkit tangkainya

Inilah warna kolam yang diserbuk sari
Menghiasi ribuan bunga
Hasilkan sebuah keajaiban
Seperti warna yang menakjubkan

Surabaya, 18 Mei 2017

Kain Kerudung Panjang Bersandang Merah Muda

Ku rasa tak mau menghadap di wajahmu
Karena menatap perasaan
Antara aku dan dia
Mungkin rela bahwa cinta direbut
Jodoh hampir gagal
Bahkan angin mencuri keresahan
Sebab di tengah hari cerita hampir sudah
Kini duduk manis sambil menatap dengan kerudung panjang berwarna merah muda
Bertebar bunga penuh menakjubkan
Menambah seribu tangkai bunga mawar
Untuk melengkapi harimu
Memalingkan wajah manis di hadapanmu
Suatu saat akan merayu manis kepada perempuan pujangga
Berserta muslimah yang setia

Surabaya, 18 Mei 2017

Pena Menggema Langit Purnama

: Oki Listya Kusumaningrum

Menatap langit biru
Tumbuh rumput yang berhimpun
Betapa indahnya alam akan hening
Seperti pagi yang mengiringi burung terbang tiap saat
Bukit mendaki penuh menguras tenaga
Sambil menikmati panorama sebuah khayalan
Seperti berbuah manis
Ditabur dengan purnama
Tiada hujan yang turun
Langit awan menunggang jiwa
Seakan-akan pulang dengan membawa bunga putih
Diselingi nada seruling
Yang mengarungi alam yang teduh
Betapa senang mendaki
Tiada daya kerudung selalu menemanimu

Surabaya, 17 Mei 2017

Buku Bersama Pena

Tuliskan hal yang suka
Merasa ungkapan yang dipeka
Paksakan benang terjatuh
Goresan pena menari kata-kata
Segala pergi dan terpisah tetap menanam karya
Dalam satu buku penuh berwarna
Baca satu lembaran
Bagaikan baca surat yang merangkit lembut frasa
Bercampur daun yang jatuh di sungai
Membaca di tengah suasana hening
Tiada satupun yang meninggalkannya
Hanya padamu pasrah pada allah

Surabaya, 17 Mei 2017

Dimensi Buku

Buku adalah jembatan ilmu
Samudra menyelami kata-kata
Di perpustakaan menyimpan sejarah lama
Ku angkuhkan pengetahuan dan pikiranku
Tak mau ambil pasrah
Konsumsi buku adalah membaca
Dari lembaran mengatakan cinta
Rela mencuri hatimu
Jangan pernah ada
Bila meninggalkan dirimu dan pengetahuan
Hanya tuhan yang rela ingin mendalami asa
Jangan malas membaca
Tiap hari menalarkan imaginasi
Itulah berguna untuk nusa dan bangsa

Surabaya, 17 Mei 2017

Tuesday, 9 May 2017

Siang Tubuh Letih

Letih yang terkena terik matahari
Membuat alam makin memanas
Meski pengampunan yang besar
Memeras kain dijemur lalu kering kembali
Meski tangga naik turun hampir letih
Hingga jatuh pingsan

Ia hanya mengadakan godaan hawa  nafsu
Sampai dahaga
Dari fajar hingga senja tenggelam

8 Mei 2017

Bangun Kesiangan

Sejak pagi yang cerah
Hampir bangun mendadak
Waktu sudah lewat
Segera bergegas
Di kota penuh menderita
Andaikan wajah gugup
Meredup cahaya merah
Karena kehendak sang kuasa
Di sinilah ia hanya bangun
Di pagi yang ke lewat

Surabaya, 8 Mei 2017

Putri Setia

: Putri Anggraeni

Seperti salju
Yang mengiringi deraian salju
Kelinci sedang berlari
Di hadang salju turun
Inilah air akan membeku
Atau badan akan dingin
Seperti memeluk hangat
Jangan tersiang purnama
Hilang mentari begitu saja
Mengerai cinta
Sentuhan kalbu
Akan rasakan tubuh terasa lembut
Inilah bidadari terbang tanpa menoleh ke belakang

Surabaya, 8 Mei 2017

Maafkan Aku

: Yuni Kartika Sari

Selama ini
Bersahabat dengan kemeja biru kotak-kotak dan rok hitam menghiasi pagi
Mendengarkan puisi yang merdu
Wajah merenggut sambil memain drama
Ternyata mengulur tangan
Bercengkraman jarak jauh
Namun tak sempat balas
Menunggumu hingga tiga hari
Aku pusing menunggu balasan
Terbuang waktu
Sampai kepala terdenyut
Entah nasibmu

Setahun telah bersahabat
Selama ini lenyap berhari-hari
Tiada sanggup menghidupimu
Laut yang berbuah
Jeans berkeliling sajak
Berjanji melewati kebersamaan
Pusaka memerkasai nada
Ku kira ini satu penguasa akan membentingmu

9 Mei 2017

Sentuhan Kain Kerudung Panjang Berwarna Merah Jambu

: Endang Indra Astuti

Andai kain
Kerudung merah jambu
Sekali sentuh
Bagaikan bidadari menyampang hatimu
Melangkah kaki cerah
Bertambah senyuman manis
Di sambut burung-burung yang indah
Selalu menyentuh selendang
Kemudian memeluk boneka beruang merah jambu

Ku seperti marmut merah jampu
Di hiasi handuk yang megah
Begitu seri cantik menawan
Laut tak bisa diam
Hanya kamu yang merayu sebuah ungkapan
"Tiada catatan tanpamu
Makna kiasan tidak cukup
Bersyukur pada tuhan maha kuasa"
Bunga Mawar mencium harum
Menunggu di sana
Bersapa dalam gapaian senyuman manismu
Sebelum tidur mengenang mimpi
Selembar kertas berwarna merah jambu

9 Mei 2017

Monday, 8 May 2017

Wayang Puisi

Mengiringi obrolan
Dengan berbaur jawa
Keluarkan kitab
Berisi mantra yang dipanggil
Dalam panduan bahasa

Sajadah yang dikumadangkan
Bait-bait geguritan
Membangkitkan dirimu
Sembahyang demi tuhan
Berperang jiwa yang batin
Wayang tak sekadar wayang
Puisi dikenang seumur hidup

Surabaya, 4 Mei 2017

Berdoa Untuk Ponorogo

Duka
Yang amat dalam
Di kota reog
Setelah menimpa musibah
Sampai menelan korban jiwa
Salah satu menabah jiwa
Sebelum menjenguk disana

Redam rasa
Mengulurkan tangan
Satu kertas putih
Sama dengan seribu doa
Yang dikabulkan
Apa yang ada dihatimu
Jangan hanya menunduk
Hanya syukur padamu
Pada hambaan tuhan
Ponorogo akan bangun kembali

Ponorogo, 4 Mei 2017

Sunday, 7 May 2017

Tanah Tandus

Tanah yang bergemuruh
Retak begitu mengguncang
Hamparan gunung sedang meletus
Inilah kehidupan telah habis
Kiamat semakin dekat

Lempeng tektonik
Terbelah jadi dua
Lubang dalam mengikis tanah
Betapa alam menderita
Setelah mengeming di rentetan daun
Begitu bersimpang terhadap waktu yang sempit

Beberapa kejadian
Melewati duka yang mendalam
Inilah bumi sedang sakit
Memakan mangsa dikunyah tanah tandus
Kini tanah sedang lumpuh
Alam segera lenyap
Seakan-akan menit akan berputar

Surabaya, 4 Mei 2017

Tidak Sempat di Ketik

Tangan sedang takut
Ingin menari kata-kata
Jari diketik hanya satu
Mengolah rasa ke dalam senandung jiwamu
Mengugah tekad
Lalu tunggu masa yang tenang
Sempatkan waktu dengan daun yang diruyuh
Melukis senyaman batik
Mengukir pikiran batin
Latihan kesabaran
Menemukan ketenangan yang ditangkap

Inilah seni telah diukir
Dengan jari-jari
Tangan akan hampa
Sempurnakan hidup
Dengan tulisan yang Indah

Surabaya, 4 Mei 2017

Memoriam

Terubah waktu
Yang begitu singkat
Diiringi jutaan air mata
Syair berucap miliyar kata-kata
Hanya sebatas pikir yang jenuh
Ini ingatan
Dari kumpulan peristiwa yang direkam
Selama melahir di sini
Sentuh satu layar
Mengembara imaginasi
Hanya satu memori yang ku bisa mengenggam
Yaitu dirimu
Dan dikenang sepanjang masa

Surabaya, 4 Mei 2017

Kafe

Tempat nongkrong
Bertemu dengan orang yang dicintai dan dibanggakan
Suasana yang bercengkraman antara teh dan kopi
Melihat layar begitu sepi
Saling sendiri tanpa berdua
Ingin meramal cinta
Dengan sebutir kata-kata
Seduh minuman yang hangat
Lihatlah obrolan yang murni
Seperti kopi menemani hari yang bahagia
Begitu pula teh pemanis hari
Tiada yang mendengar dari dalam
Hanya suara sendiri di meja yang berbeda
Tiada disatukan
Antara pikiran dan beban
Lupakan bosan
Temukan amalmu

Surabaya, 4 Mei 2017

Virus Cinta

Menular virus
Yang membangkitkan cinta
Cinta tak sekadar biasa
Menerkam satu suara
Mengiringi perempuan yang segar

Berlari di depan taman
Yang begitu lembut
Biarkan cinta tetap berjelaga
Seperti ku sendiri
Membiarkan kau dan coklat
Yang mempererat tali hampa
Tiada satu pun
Yang setara dengan kau

Surabaya, 2 Mei 2017

Gendut

Perut membesar
Makanan semakin mengembung
Karena lahap makanan
Yang siap disajikan
Hidangan begitu suka

Susah berlari
Di jalan penuh hampran
Perut makin membesar
Keringat paling banyak
Pada tubuh yang lemah

Inilah lemak
Yang mengisahkan mual
Dan manusia yang tak berdaya
Tidak bisa terurus dengan seutuhnya

Surabaya, 7 Mei 2017

Melumpuh Asa

Tiada harapan
Tiada abadi
Sempat congkak di depan kaca
Melangkah kaki yang tak berdaya
Merasa aneh
Mengiringi satu jiwa
Dengan segala bakat
Sayang dunia terbatas
Waktu terbatas
Memutar waktu yang di hadang
Inilah habis material yang dibangun
Habislah mimpi yang ditekuni
Artinya jiwa sedang mengambil paksa
Hanya tuhan telah mengingkari janji
Ke dalam api yang disengat

Surabaya, 7 Mei 2017

Bayangan Mendekap Dirimu

Betapa bayangan hitam
Ia tak bisa lari
Membenteng diri
Ia hanya mengeluh diri
Tiada jiwa abadi
Kemudian menyerukan hamba
Masa lalu yang cemerlang
Detak asa dibendung
Kitab sempat terbaca
Uang tergilir
Tiada doa untuk mengusir bayangan
Mengikuti hati dan alam menyatu
Tiada pilihan lain

Surabaya, 7 Mei 2017

Tidak Sanggup Menghirup Nafas

Perut kembung
Hendak tak bisa bernafas
Hanya makanan yang disimpan diperut
Betapa sakit begitu perih
Tidak sanggup melakukannya
Tinggal menangis dalam waktu bersamaan
Hanya mual dan pusing
Iringi bambu yang diruncing
Geming air kuning di lambung
Rasakan perih
Dan tiada pengampunan

Surabaya, 7 Mei 2017

Bermain Bersama

Ku langkah bersama
Mencampur canda dan tawa
Mengejar mimpi yang dilampui bersama
Tiada sendiri bila melengkapkan harimu
Bunga tumbuh di kelam senja
Sampai malam yang lelah mencatat lembar harian
Setiap saat akan diulang
Bersama kenangan lama yang dirindukan

Sidoarjo, 7 Mei 2017

Sidoarjo Kota Bandeng

Lautan hanya kolam bening
Hanya membentang ikan yang segar
Berada di sungai yang lepas
Memakan daging sangat lezat
Mengugah selera
Seperti hidangan pelengkap di malam hari
Penuh bertabur cahaya
Ikan yang digoreng

Bila menemani kecambah
Dan mentimun yang menjiwai selera
Sidoarjo bukan hanya ikan
Tetapi kota yang kaya dengan usaha
Dan membagikan uang
Dengan kerja yang tekun
Kini lumpur lapindo
Telah mengisahkan tanda tanya
Tragedi tak pernah berhenti
Melumpuhkan jiwa abadi
Inilah Sidoarjo yang penuh mengenang peristiwa
Sepanjang pagi dan siang
Serta malam yang berputar

Sidoarjo, 7 Mei 2017

Selamat Datang Cerpenis

: Ajeng Maharani

Pagi masih menyinari waktu
Ketemu dengan cerpenis hebat
Senyuman manis bertabur bunga mawar
Membawa bayi yang sempurna
Sangat menampan
Di hadapan bidadari yang belum pernah ada
Bagaikan surya menerbangi angkasa
Membuat cerita hampir meledak
Makna tersirat jelas
Jangan mengedap rahasia makna
Karena imaginasi selalu ada dalam sisiku

Menemani hidangan yang berguna
Dalam rangka silaturahmi
Antar pengarang setia
Setiap saat akan mewarnai hari
Dengan tulisan penuh terungkap
Ke dalam jiwa yang abadi

Surabaya, 7 Mei 2017

Saturday, 6 May 2017

Hilang tanpa Perantara

Hilang benda
Yang hendak dipegang
Melihat air mata
Cari tempat yang terakhir disimpan
Ku rasa ceroboh hampir datang
Inilah lenyap telah diungkap

Malaikat mencatat
Sedangkan kamu hanya pesimis
Menangis jiwa yang serakah
Banting gelas
Biar gaduh
Sampai bentak diri
Berujung darah menetes
Demikianlah alam makin menghitam
Laba-laba disarang
Diikat kuat-kuat
Dan pikiran akan lumpuh
Bertubing-tubing

Surabaya, 5 Mei 2017

Sempurna

Kau begitu berguna
Di samudra mata yang indah
Memejam wanita yang manis
Diukur dengan hati yang terulur
Menambah nadi yang segar
Ku sanjung dengan abadi
Melihat gugup yang diraup
Disertai cinta yang abadi
Keliling angin hingga menyetujui kalbu
Jangan tinggalkan dirimu
Hanya bisa berhadapi
Namamu selalu akan bisa

Engkau malam kalbu
Dan memeluk dirimu
Oh dirimu yang begitu
Sempurna

Surabaya, 4 Mei 2017

Memedam Rasa

Cinta akan terbelah
Bila menampar wajahmu
Akibat sakit hati
Yang membenarkan jiwamu
Inilah sakit yang begitu merobek jiwa
Demikian jiwa dan abadi
Setapak dengan mantra
Malah mengobar api membara
Janji begitu diingkari
Inilah dirimu yang berbeda
Putuslah hubungan
Dan jangan dekatiku lagi
Semoga kau cepat menemukan pasangan yang berbeda

Surabaya, 2 Mei 2017

Lebih Baik Gugup

Gemetar kaki
Di depan orang banyak
Itulah disebut sendiri
Suasana yang mencongak
Membentang di malam yang gugup
Tiada daya mengadili
Inilah angkuh
Dalam pandangan yang menuduk
Tiada berharap
Kau memiliki kesempatan

Seharusnya melempar batu
Yang memungkari janji
Tiada satu pun yang bisa dipungkiri
Inilah jalan retak
Menuju tanah yang gemuruh
Wajah bumi sedih
Kiamat telah sudah
Langit ketujuh siap bersaksi
Bahwa menjunjung tinggi
Nama seanggun peti mati
Inilah kubur tanpa perantara

Surabaya, 2 Mei 2017

Dering dalam Berkubur

Mengusang api gangga
Hampiri tanah dalam kubur
Mengulur hidup-hidup
Waktu akan menderita
Sekali sentuh hanya bertemu di dunia
Dia tak sanggup pergi
Mengiringi nada sedih
Nilai yang amat buruk
Menambah jeli yang tak bisa dilukiskan

Kini ia mengoda angin
Yang menyambar petir
Sayang kubur telah sudah ditelan
Malaikat akan berjulang
Di api yang lahap
Mengulur di unggun senja
Senja bukan di dunia nyata
Tetapi senja terus mengusam
Sampai mati

Surabaya, 2 Mei 2017

Senandung Puisi

Bait-bait
Melekat laba-laba
Cinta di ujung senja
Mendung mengulus malam
Hujan memegang rahmat
Mengulur benang di lembar pena

Di sebelah tangan
Yang memangku mentari
Dipersembahkan untuk orang yang dicintai
Menghimpun padamu
Pada langit yang berkuasa
Dan mengaliri sabang hingga merauke

Surabaya, 2 Mei 2017

Wednesday, 3 May 2017

Tentang Memoar Sepuluh November

Catatan pagi
Diawali dengan pahlawan
Mengenang sepuluh November
Adalah peristiwa bagi warga Surabaya
Dimana penjajah inggris yang berkuasa
Di kota pahlawan penuh tercinta
Betapa darah pemuda merebut kekuasaan
Mallaby hendak paksa memimpin

Ku harus membenteng tembok penjajah
Kini peristiwa hampir mulai
Ketika pesawat menjatuhkan peluru di tanah
Ditembak tanpa berpikir panjang
Pemuda mulai berlari
Kemudian bambu runcing merombak kulitmu
Hingga mati tanpa bernafas
Jangan mati
Sebelum merebut kemenangan
Bunuhlah jendral
Yang begitu keji
Seketika mati tanpa hidup kembali Mallaby
Panjatlah Hotel Majapahit
Menendang pasukan yang diinjak kota

Inilah bendera telah berpegang
Lepas kain biru dari negara belanda
Demikianlah Indonesia telah bangkit
Dan memenangkan dari sebuah perang
Sepuluh November telah bersaksi
Bahwa pahlawan tanpa pamrih

Surabaya, 4 Mei 2017

Tuesday, 2 May 2017

Jalan untuk Masa Hampa

Jalan kaki
Menerjang sungai yang hampa
Melewati jalan yang hitam
Betapa gelap yang kelam
Tubuh penuh meredam rasa
Sebentar lagi kau akan berakhir

Dengan peristiwa yang amat tragis
Ku bilang ini malam jumat
Membangkit roh semesta
Bila jadi foto terpapar
Kemudian mati disayup rindu

Ia kira memang terbanting tulang
Tak semua yang menepal
Hanya sesama langit yang begitu kusam kini
Kini ia harus berakhir di sini
Selamanya

Surabaya, 2 Mei 2017

Virus Cinta

Menular virus
Yang membangkitkan cinta
Cinta tak sekadar biasa
Menerkam satu suara
Mengiringi perempuan yang segar

Berlari di depan taman
Yang begitu lembut
Biarkan cinta tetap berjelaga
Seperti ku sendiri
Membiarkan kau dan coklat
Yang mempererat tali hampa
Tiada satu pun
Yang setara dengan kau

Surabaya, 2 Mei 2017

Pendidikan Bagi Bangsa

Pendidikan
Semakin luas
Mendengarkan ilmu
Dari guru yang mengajarkan
Pada anak-anak
Seperti dakwah bil-lisani
Lalu menempuh bil-kitabah
Rentang junjung tinggi
Bangsa akan memperkokoh persatuan
Damai tak pasti berakhir di sini

Pulanglah dengan hikmah
Air mengusap dirimu
Bertambah berkah
Di sayup senja
Merenungi mata yang agung
Mainkan wayang
Meski hibur dengan setulus hati

Surabaya, 2 Mei 2017

Aku Ingin Mati

Hari yang sesat
Jalan kaki penuh lumpuh
Tubuh sedikit membengkak
Tandus di retak senyap
Dihadang langit yang hitam
Gedung yang retak
Tembok yang rapuh

Bayangkan
Betapa kiamat sudah dekat
Bukan dunia nyata
Tubuh akan lenyap
Dalam sekejap saja
Ia akan melepuh
Selamanya
Hingga kembali di derajat yang tinggi

Surabaya, 2 Mei 2017

Senandung Puisi

Bait-bait
Melekat laba-laba
Cinta di ujung senja
Mendung mengulus malam
Hujan memegang rahmat
Mengulur benang di lembar pena

Di sebelah tangan
Yang memangku mentari
Dipersembahkan untuk orang yang dicintai
Menghimpun padamu
Pada langit yang berkuasa
Dan mengaliri sabang hingga merauke

Surabaya, 2 Mei 2017

Susah Bergetar

Malu di depan orang
Yang begitu gugup
Kaki terasa goyang
Tidur dalam sekelam bahasa
Yang menetes hidup
Sulit memaparkan kalimat
Ingin pingsan
Betapa reaksi datang
Ia akan melepuh bagian nadi
Pemimpin penting
Jiwa raga perlu dipelihara

Surabaya, 1 Mei 2017

Hilang

Benda hilang
Tanpa mencarimu
Bila tak ditemukan
Seperti ikan pergi begitu saja
Lalu tak sempat keluar
Mengiringi iman
Yang mengurung padi

Membuatku hidup hampir resah
Bercampur rasa iri
Mengarungi dengki
Bersiap untuk berjelaga
Tiada nafas yang berhembus
Inilah hilang benda
Terembun batinmu
Sebaris doa yang selesaikan
Sampai mati

Surabaya. 1 Mei 2017

Ikhtiar

Di sini
Membelikan sesuatu
Tentang apapun
Bukan tentang cinta
Bukan nikmat biasa
Begitu pula tidak menghampiri daun

Itulah berikhtiar
Dalam mengundang rasa dzikir
Mengerucut nafas kesabaran
Mengintip satu kata
Yaitu percaya padamu

Surabaya, 1 Mei 2017

Gagal Usaha

Dekati masa yang pahit
Usaha berujung meleleh
Tiada hasil
Mengukur air mata
Yang begitu lepas
Sesuatu akan tandas
Dalam sebuah rindu yang mengapainya
Seperti lepas genggaman lalu pergi begitu saja
Cinta tak ada hubungan dengan tuhan
Sela-sela hari yang bosan
Ditambah rasa ragu
Inilah arti kesalahan
Yang terpaku pada dirimu
Tiada salah lagi
Lihat padamu
Tiada lupa
Sebelum tanah mengeming
Di kubur yang termakan hidup-hidup

Surabaya, 1 Mei 2017

Pasrah Padamu

Senyum dan manja
Hari yang terbuang rahmat
Seperti jelaga sendiri tanpa perantara
Di keraton yang mengagum kehormatan
Tidak menyangka
Betapa hasrat padamu
Mungkin hati yang lepas
Seperti melayang di telaga penuh sendiri.
Tidak lagi tersimpang di jalan

Kota tak dihuni
Jika hendak pasrah
Saat mimpi tak dijumpai
Buku bekas dibaca
Perasaan makin melepuh
Inilah mengiringi kegelisahan
Resah atau mati ku sia-siakan
Tanpa habis diterjal akalmu
Dan hidup tanpamu

Surabaya, 1 Mei 2017

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...