Sunday, 14 February 2016

Sukerela dalam Ketulusan Hati


Sukerela dalam Ketulusan Hati


Hidup Sukarela……

Kini masalah telah ku hadapi

Kadang rakyat kita merasa pertolongan

Musibah mungkin menelan bangunan dan korban jiwa kita

Tuhan tolongkan kami memberikan bantuan dengan rasa ikhlas



Hidup Sukarela

Bantuan sudah datang untuk kita

Sungguhkan kami berbagi setulus hati

Hanya menerima terhadap rasa senang

Tiada daya memperoleh kesederhanaan



Hidup Sukarela

Seperti Daun telah mengugur

Luruskan diri dengan niat

Tekadkan diri demi keberhasilan

Bersama membangun kerukunan



Hidup Sukarela

Capailah kami keikhlasan dalam berbagi

Kebaikan sama dengan memperoleh amalan

Manusia hanya berbalas budi pada-Mu

Gapailah mimpi setinggi langit



Surabaya, 14 Desember 2015

Teka Teki Sudut Pandang Vina

Teka-Teki Sudut Pandang Vina
Ketika memasuki pertengahan kelas X masih ingat kejadian semasa kecil ia mempertemukan sahabatnya Vina. Katanya ia belum punya identifikasi tentang keberadaan tempat tinggal. Toti musuh incaranku ia menyembunyikan kertas rahasia milik Vina. Sebelumnya Vina memberikan surat rahasia kepada Toti. Isi surat ini mengenai Rencana membunuh teman akrab. Begitu kurang yakin dengan Surat itu.
            Tiba-tiba surat itu terasa dimensi waktu terhadap masa kecilnya. Tidak salah pun Vina belum bisa menemukan titik temu keberadaan tersebut. Rencananya melakukan pembunuhan di berbagai tempat salah satunya menyerang sahabatku yang sudah akrab dengannya.
            Thoriq sedang membaca buku di Rumah. Sehari-hari kebiasaan cuman internet dan bersih-bersih di Rumah. Di temani dengan sepupu dan orang tua bikin hangat kebersamaan. Di balik aktivitasnya kadang-kadang ia mencari informasi tentang deteksi Ivan sekarang. Belum jelas pasti apa sebenarnya terjadi? Ketentuan masih di selidiki.
            Suara cahaya bermunculan Thoriq berdesak lari keluar rumah. Pintu terbuka langsung terkena Dimensi mimpi. Cahaya putih mulai berkembang luas. Thoriq tertidur sampai Vina mengangguk tersebut. Mata terbuka pelan-pelan lalu ia bangun.
            “Thoriq Kemal” Gumam Vina.
            “Siapa kau?” tanya Thoriq tidak sadar
            “Akulah Hervina Putri teman akrab Ivan. Apakah kau pelajar SMA?”
            “Tidak tahu aku nggak kenal dengan kau. Mau apa di sini? Kenapa mengajak ke Dimensi nggak jelas seperti ini” Ujar Thoriq menanyakan siapa sosok tersebut.
            “Tenang Thoriq, ini alam masa lalu. Kamu belum pernah berteman denganku” Jawab Vina terlalu kalem.
            “Dengarkan Aku. Sebenarnya anda ini kenapa membuka cahaya tak cemerlang. Aku tidak pernah berteman dengan kau.”
            Thoriq menyangka semasa kecil tidak mengenal dengan sahabat akrab pertama. Sebab ia bersekolah di tempat yang berbeda. Tidak hanya melihat lingkungan berbeda-beda melainkan opsi ini juga melibatkan semua masa kejadian tak ada habisnya bila menjadi perseturuan. Thoriq dan Vina menjadi sasaran pertama dalam penyerangan rahasia. Thoriq heran banget. Salah satu alasannya Thoriq tidak punya kebiasaan berteman pada Vina apalagi meragukan apakah kesadaran bisa mengubah? Sampai saat ini Thoriq hanya diam dan menyaksikan kejadian itu.
            Terus terang Thoriq menatap Vina berlama-lama. Urusan telah menanti walaupun tidak punya jalan keluar Thoriq tetap menemukan cara keluar dari jalur itu. Tanpa terduga ia berlari kencang. Mendadak Vina mengeluarkan sinar efek dari tangannya. Hampir berhasil ujung-ujungnya mengeluarkan jurus tersebut. Akhirnya Thoriq membalikan badan terus kesadaran mulai mengubah.
            Thoriq berbaring di tempat tidurnya Vina segera melarikan diri di tempat lain. Belum bisa terkendali setelah terkena kutukan kini belum bisa kembali normal
***
Kak Yuni sedang mendampingi adek yang lagi menjalankan sidang skripsi. Ia sudah lulus tahun lalu saking menjalankan skripsi terlalu susah. Kata temannya Skripsi itu sulit banget bagiku. Tidak ada tanda dari lingkungan menjadi tenang. Seandainya tak seorang pun mengincar untuk menyerang. Kemungkinan cara menyampaikan dalam sidang berlangsung menurut pakar alumni yang sebelumnya sudah mengalami masa sidang.
            Vina melihat dari jauh. Masuk tanpa izin seolah-olah tujuan untuk mencari sasaran kedua setelah Thoriq mengalami tidur di dimensi. Dimensi mimpi tidak jauh dari metode jurus Madara Uchiha. Jurus pohon mimpi mengumpulkan jurus terkait dengan Infinity Tsukoyomi. Sebenarnya jurus berasal dari bulan yang mengikuti pandangan seluruh masyarakat. Bahkan keseluruhan tidak bisa bergerak hingga masuk ke dalam terperangkat tersebut.
            Berjalan pelan layak seperti jalan biasa senantiasa hanya mencari ruangan yang sedang incar. Vina langsung terlihat dari belakang Kak Yuni yang sedang menemani adiknya. Tanpa menunggu lama tangan mengeluarkan efek cahaya. Melangkah pelan dengan jalan jongkok. Kak Yuni menengok kiri kanan. Efek cahaya telah muncul akhirnya ia terjebak sementara adik kelas berlari meminta pertolongan sebab bahwa Kak Yuni telah di culik oleh salah satu sahabart akrab pertama.
            Saat ini Kak Yuni sedang tertidur di dimensi mimpi. Tidur nyenyak tetap tidak ada tanah, maupun semacam langit hanya gambaran masa lalu. Vina terlalu melihat sosok mahasiswi terlalu tinggi dan juga suka mengadaptasi sendiri. Mata terbuka perlahan-lahan walau masih melek sekalipun.
            “Ini dimana ini tolong?” Ucap Kak Yuni pura-pura minta pertolongan.
            “Selamat datang Mahasiswi” gumam Vina mengucapkan selamatkan datang dengan muka terlalu biasa
            “Hey dimana ini?”
            “Ini kita berada di dimensi mimpi. Sebuah imaginasi menggambarkan masa lalu mereka lalu menjadi masalah di dalam masa lalu antara aku dan Ivan. Salah satu temanmu sedang tertidur di sini. Jadi bagaimana menurutmu?”
            “Menurutmu itu sedikit sampah. Di dunia mana ada semacam fanatik kayak loe. Kamu preman nggak punya ibadah, cuci saos, orang tua nggak menyayangi sampai kau membunuh teman dengan godaan setan seperti kamu. Dasar anak kecil sampah nggak punya pengertian!”
            “Jadi kau menghinaku dengan tidak sengaja begitu!” sahut Vina perkataan sangat tidak jelas
            “Oh ya begitu menghiburku anak sampah jalanan!”
            “Kalau begitu akan terjebak di dalam masa lalu. Kemundian kau tinggal menikmati saja”
            “Hey sampah mau kemana?”
            “Diiiiiaaaammmmmmm!!!!!!!!” Vina mengeluarkan jurus khusus dari tangan menghampiri Kak Yuni.
            Efek cahaya semakin berbeda. Thoriq dan Kak Yuni tertidur pulas. Tak menyangka ia terpaksa mengurung di penjara dimensi mimpi. Sampai kapan ia terperangkat. Akhirnya kesadaran belum terbangun serta tubuhnya sudah mengamputasi dengan semacam struktur garisan tersebut.
***
Ketika merayakan ulang tahun SMA Negeri 10 Surabaya. Teman-teman sibuk mendekor kelas apalagi sudah menyiapkan alat-alat itu. Aku terdiam di kelas tanpa melirik teman yang sedang berbicara. Walaupun interaksi dengan teman-teman tentang gambaran seseorang melainkan tetap melindungi dari segala ancaman.
            Bedanya aku menelusuri SMA dengan sedikit efek dari tangan berisi kekuatan cahaya yang ekstrim. Tanpa berfikir panjang ia mengeluarkan efek waktu. Semua orang berhenti begerak gara-gara efek cahaya mengalir ke seluruh penjuru kota. Vina langsung menelusuri sedangkan aku mencari penyebab dari semua ini.
            Lari dimana-mana belum ketemu. Ujung-ujungnya Aku bertemu dengan sahabat yang sudah pergi melepas masa SD. Hervina dan Aku berhenti di tempat hanya untuk melawan secara tak kasat mata. Lama-kelamaan memiliki drama terlalu berbeda. Tak menyangka ia bertemu beberapa kali hingga menyimbulkan nasibnya. Tidak tahu tujuan perlawanan seperti apa.
            “Lama tidak bertemu Hervina Putri.” Ucapku menatap muka jarak cukup sedang.
            “Hai kau cemen. Sudah berapa lama kau bertemu. Apakah kau akan menjadi musuhku hah!” sindir Vina terlalu pelan.
            “Oh kau pasti mencari incaran begitu. Aku tidak tertarik dengan perkataanmu itu.”
            “Apa yang kau lakukan?”
            “Dahulu aku sejak kecil kita berteman dan suasana seperti bermain ayunan yang tidak pernah berhenti dan juga dulu aku berinteraksi tentang kebiasaan dan sampai saat ini kau cukup berbeda.”
            “Oke kalau begitu akan memasuki dunia lain seperti temanmu yang sudah tertidur”Ujar Vina sambil mengeluarkan efek cahaya dari tangan.
            Tidak peduli jurus apa yang telah punya. Aku terpaksa menunjukkan mata Mangekyo Sharingan yang berasal dari kalangan klen uchiha. Mulai menyerang aku menggunakan teleportasi agar tidak terkena jurus itu. Cahaya mengalir ke seseorang namun berhasil tetapi Vina membalikkan badan akhirnya ia terkena Efek mata sharingan kena pada bagian matanya. Mata Vina semakin perih Aku tetap bertahan di tempat terus memaksa memasuki lorongan waktu bagi orang yang menyiksa teman secara kurang kemanusiaan
***
Langit menghias merah menemani pemandangan layaknya kebiasaan yang buruk. Nyatanya Vina terjebak di dalam efek mata sharingan. Tak tersangka teman ini menculik agak tidak sengaja. Apalagi dengan situasi yang mengambarkan perisitiwa yang terjadi dalam dimensi merah. Vina lemah daya dalam kurungan menjadi tidak bisa melihat apa-apa. Belum jelas pasti bagaimana sebenarnya terjadi.
            “Dimana aku tolong. Keluarkan dari permainan ini. Lepaskan” gumam Vina berada dalam keadaan tak berdaya
            Aku berhadapan dengan Vina lalu melakukan pembunuhan secara balas dendam. Aku sedikit kecewa dengan sahabat yang sudah terkurung di dalam dimensinya. Akhirnya aku angkat bicara dan menyaksikan hari pembalasan.
            “Vina, sayang sekali kau. Seharusnya kamu melepaskan sahabat dari kurungan ini tapi ternyata kau semakin kejam.”
            “Hey cemen bagaimana keadaan seperti itu. Kenapa kau menghancurkan seluruh alam semesta.” Kata Vina kalau memanggil cemen.
            “Aku tidak mengatakan seperti itu hanyalah kau yang pasti tergodakan. Dan tidak dengar ucapan sampah yang melontar di mulut lho. Kecewa banget sampai mengimbangkan suasana.”
            “Dasar sampah!!!” sindir Vina keras sekali
            “Aku tidak dengar. Dan kau sungguh kejam.”
            Pedang menusuk bagian perut kanan. Vina merasakan teriak kesakitan. Tak tahan kuasa air mata sambil meminta ampun kepada teman. Selanjutnya pedang menusuk pada bagian kedua kaki. Sedikit sakit hingga nggak bisa meminta pertolongan. Akhirnya aku mengalah dan Pertanyaan seputar teka-teki rahasia tentang pembunuhan sahabat.
            Toti mampir ke sekolah SMA. Mencari orang tetapi belum ketemu lalu mencari sampai ketemu. Pemandangan merah masih berlanjut. Vina membekas luka serta mengeluarkan darah di luar wajah. Bayangkan pemandangan terlihat di atas. Jika tangan vina tak bisa mengeluarkan efek cahaya lagi. Karena tidak punya pilihan maka ia memutuskan untuk mengeluarkan dari kesengsaraan. Aku mengikuti perkataan teman efek akan terlepas dengan sendirinya. Vina langsung berbaring dalam tanah tersebut. Efek telah pecah akhirnya Dimensi mimpi segera berakhir.
            Thoriq dan Kak Yuni melepaskan dari efek dan menuju ke tempat yang semula. Drama belum selesai Vina berbaring dalam tanah sedangkan Saya bertahan di tempat layaknya menyaksikan orang yang sudah berjuang mata-mata melawan teman. Toti ketemu tetapi suasana semakin redup. Surat terjatuh dari tangan tak tersangkan emosi Toti meninggi. Lari menghampiriku sambil mengenggam pisau mereka. Aku tertutup mata seperti menangis dan mengamati orang. Hampir menyerang cuman berhasil menangkis lawan. Tak tahan kuasa amarah akhirnya ia menusuk langsung pada bagian perut mereka. Drama tragis segera berakhir.
            “Ivan, kau sedikit berubah dan apa yang telah derita” Kata Toti menyiksakan hati terlalu dalam
            “...................................................................” aku terdiam
            “Apa tujuanmu untuk membunuh’kan?”
            “Aku tidak ingin membunuh siapapun kecuali ada peristiwa yang terjadi kesalahan pada diri sendiri. Jadi aku tidak tahu kapan akan berakhir di sini. Yang jelas aku nggak punya bantuan untuk kau dan relawan telah mengenang kami.”
            Drama telah berakhir. Aku mengambil surat kejam tersebut lalu mengembalikan simulasi seperti semula lagi. Akhirnya efek telah hilang maka aktivitas segera kembali. Tak terasa tubuh bisa bergerak lagi. Aku segera mencari tempat yang enak untuk membuka surat kejam tersebut. Sampai di sana ia duduk dengan santai lalu membuka surat kejam. Ia menyangka surat ini berisi tentang kekejaman untuk membunuh sahabat.
            Sebelum berakhir ada salah satu ungkapan yang harus kalian dengar. Sejak kecil ia bermain dengan sendirinya. Seiring orang tua membimbing dan menyayangi ia selalu cuek dalam suasana ini. Tapi nggak bisa melupakan bahwa sejak sekolah ia malu dengan teman-teman. Sekolah menyimpan sejuta perasaan tetapi aku belum berani menyampaikan apa yang telah kau lakukan apalagi melihat kondisi seperti ini. Hidup setelah ini aku akan membunuh siapa saja yang telah membenciku. Hanya saja sahabat yang kau benci untuk membentuk segala ucapan yang tidak berkenang. Apalagi melakukan kejadian yang ku alami. Balas dendam akan membawa kesengaraan bagi hidupnya. Maafkan aku ini merupakan akhir dari segala kehidupan maka merekalah akan membunuh serta menyaksikan mayat dalam kuburan lalu membalas semua apa yang telah lakukan untuk mengembalikan perasaanku. Terima kasih Tuhan.
            Setelah membaca surat itu ternyata aku merasa bersalah atas semua kejadian masa SD. Lupakan itu kemundian Aku membangunkan teman-teman yang terjebak dalam dunia dimensi. Dokter Yono bermunculan di tempat. Tanpa basa-basi ia segara melakukan pertolongan.
            “Dokter tolong sembuhkan kami”
            “Baiklah” Sahut dokter sambil mengeluarkan alat-alat medis.
            Ia memilih meminum obat penghilang efek. Dokter membantu membuka mulut Thoriq dan Kak Yuni. Terus meminum botol itu. Obat ini bisa mengembalikan penyakit efek dalam tubuh tersebut.
            “Apa dia mempan”
            “Ia pasti pulih kembali.”
            Akhirnya tubuh terasa normal kembali.  Ia segera membuka mata perlahan-lahan dan melihat di tempat yang normal. Layaknya kesadaran berawal dari nol.
            “Mama, kita dimana?” kata Kak Yuni menanyakan tempatnya
            “Iya apa yang telah terjadi?” gumam Thoriq.
            “Kalian terjebak di dalam dimensi waktu dan nafas pelan-pelan.”
            “Ivan kau di sini.” Sapa Kak Yuni
            “Hey ada Ivan” Sapa juga Thoriq
            Terima kasih Dokter yang telah memulihkan kami dan kembali ke tempat yang berada dengan ilusi. Aku menatap ternyata dokter entah kemana mereka? Thoriq dan Kak Yuni mengajak liburan ke Pantai Papuma untuk bersenang-senang di sana. Permintaan telah terwujud Aku dan kawan-kawan akan merasakan bintang yang sedang bersebrang. Masa lalu telah hilang kembalilah ke jalan yang benar. Sambil menyeruput kopi yang telah buat. Ternyata suasana makin mereda. Kini Canda tawa dan bersenang-senang bareng masih menyenangkan suasana. Lupakan masa lalu dan jalankan hari ini dengan bersenang ria.

Surabaya, 14 Februari 2016

Friday, 12 February 2016

Langit Dan Bumi

Langit dan Bumi
Lihatlah alam kita menyerupai biru
Serupa mengelilingi luas yang indah
Bagaikan pelangi menghampiri samudra surga
Awan menemani hari
Semenjak engkau cerahkan pagi dengan sejuk

Fajar telah terbit
Memutar jam tak pernah berhenti
Alangkah kebaikan membawa rahmat bagi alam semesta
Memutar planet tak terhitung
Waktu berjalan maju tanpa mundur
Bumi menemani bintang sejuta makna

Matahari telah menerangkan hari
Lari mengelilingi angkasa seperti bintang membentuk sejuta garis
Berisi air mengalir ke seluruh alam
Bagaikan lingkungan kita
Menumbuhkan pohon yang menghirup udara bebas

Sunday, 7 February 2016

Hujan Merendam Rasa Galau

Hujan Merendam Rasa Galau
Hujan telah menetes
Mungkin tak bisa beberapa lama air telah menetes
Urusan telah menunggu hingga melihat suasana seperti ini
Nggak bakal bisa terangi langit begitu saja
Memuliakan hujan akan membawa Rahmat
Abaikan langit telah menutupinya

Wajah sudah ku nantikan
Mungkin sampai kapan hujan telah berhenti
Ingatlah kembali setelah keluar dari suasana ini
Tak cukup untuk melakukan apa saja engkau mau
Bagaikan wajah meredam rasa malu
Do’akan semoga hujan bisa meringankan beban kami

Tidak sulit menunggu dalam suatu apapun
Kemanakah engkau pulang
Orang-orang telah menanti-Mu
Hilangkan rasa galau dalam hati
Membuka persahabatan sebagai penunggu terang dari hujan
Melewati air jika fisik semakin kuat

Hingga merindukan dari segala kendala ringan

Pertama kali jatuh sakit masa SMA

Saat Pengajian Jum'at pagi biasanya mengisi waktu sebelum waktu sekolah. Akhir-akhir ini tubuhku terasa nggak enak badan. Biasanya ketika ngaji aku tidur lelap walau bisa mendengarkan kajian itu. Menurut para ahli kan ilmu yang peroleh bisa difahami dan diamalkan. Tidak semua ilmu yang kita suka melainkan minat bisa di pilih tergantung pemahaman sendiri. Beberapa menit kemundian aku jadi kurang enak badan apalagi berjalan menuju toilet untuk menyeimbangkan sistem tubuh yang terkena masalah penyakit. Kembali dalam keadaan biasa lalu berdoa agar bisa menjalankan sehari dengan penuh kemudahan. Lebih aneh berdo'a bagaikan tubuh sudah berkeringat. Hati-hati kalo masjid nggak ada AC-nya.
 Setelah pengajian selesai ia mengambil makanan yang disediakan oleh pihak takmir masjid. Aku kembali ke rumah dengan lancar. Saat perjalanan suasana warga hampir seperti biasanya sambil bersapa dengan jamaah pengajian jum'at pagi. Seru dan segar banget menemani hari. Hanya saja hendaklah sekolah cuman masalahnya badannya terlalu kurang enak. Ia mendadak buang air besar ke kamar mandi. Soal masuk sekolah sepertinya belum bisa melakukan akan tetapi apabila engkau masuk sekolah tubuhnya terasa nggak enak maka ia bereaksi total sakit tetap bermunculan. Kemarin beberapa siswa yang jatuh sakit sebab ruangan dingin berasal dari AC. Ibu menyuruhku bersekolah tetapi ia memilih untuk sakit dibandingkan masuk dalam fisik masih kuat.
 Hari ini aku belum bisa melanjutkan sekolah karena jatuh sakit. Point penting harus perlu lakukan dengan hubungi pihak sekolah dan siswa sekelas punya sosial media. Mengambil handphone lalu mengotak atik SMS kepada teman maupun pihak yang bersangkutan biar bisa menerima kesepakatan. Beberapa menit dan jam kemundian baru SMS dan balasan sudah terima. Setelah mengirimkan pesan dari berbagai sosial media tunggu kunjungan ke puskesmas maupun rumah sakit. Sambil menunggu pergi Ibu sempat mengajar di PAUD dengan mengenakan seragam hijau dan tranning nggak tahu warnanya apa. Jelas pasti ia menunggu jika waktu udah usai. Aku membiasakan membaca buku fiksi daripada nonton TV. Ia kalau tayangan sedikit mainstream akan cenderung gila.
 Sudah sejam menunggu baru memeriksa badan ke Puskesmas. Sampai di tempat temui dokter lalu di periksa badan tersebut. Sakit yang ia derita adalah diare dan juga telinga. Periksa baru menemukan kelemahannya. Ia di anjurkan untuk mengatasi penyakit bila bermasalah belum selesai. Mengambil obat terus memberi surat rujukan ke rumah sakit langsung pergi meski menyelesaikan urusan kecil terlebih dahulu. Selesaikan secara ringan akhirnya baru mengunjungi ke Rumah Sakit. Di tempat ini sedikit rame apalagi kebanyakan usia tua sedang mengatasi penyakit baik ringan maupun berat. Aku dan Ibu pergi menemui register pasien. Untung saja membawa dokumen pasien dan seterusnya. Mampir ke loket pendaftaran ujung-ujungnya tutup maka ia terpaksa kembali ke rumah untuk menunggu waktu yang tepat. Kembali ke jalan keadaan sia-sia banget. Mau atau tidak akan menunggu waktu yang telah sepakat hanya mengembalikan masalah tersebut. Jalankan hari lalu bagaimana reaksi tergantung aksi anda. Semoga bisa teratasi Sakit terhadap manusia tergantung cara mengatasi secara medis atau non medis. Apabila nggak mempan segera ke dokter biar cepat selesai.

Sudut Pandang Vina


Sudut Pandang Vina

Ketika SD Aku berkenalan dengan Vina. Cara terlalu gampang hanya berkenalan sambil berkata basa-basi. Terima belas senyuman membuat aku terlalu bahagia. Sepulang ngaji aku terasa pede melihat Vina. Sosok Vina dari kelas 1 SD awalnya dari beberapa tingkah terlalu aneh banget. Misalnya Vina menguasai huruf dan hitungan yang ia suka. Sedangkan aku selalu mengikuti pandangannya.

            Begitu arah mengikuti orang ada salah seorang yang mengancamku. Ternyata di pandangan Vina merasa geli terhadap Ivan. Vina berfikir Seandainya Ivan ini seperti apa ya? Apabila ia justru tujuan untuk berteman. Bagaimana caranya untuk mengembalikan yang paling lurus. Jangan sampai menghancurkan nasib saya. Muncul Sosok aku di belakang Vina.

            “Hai Vina” Sapa Vina menerima senyuman dengan manis.

            “Hai Ivan, Kamu lagi ngapain di sini?” Jawab membalas senyuman dari seseorang.

            “Nggak papa sih cuman ikut-ikutan.”

            “Gitu ya Vina merasa kebaikan sama kamu.”

            “Benar ta? Saya mengikuti demi persahabatan kita.”

            “Ya sudah Vina kembali ke Kelas dulu ya.”

            “Iya hati-hati ya.”

            Bel telah berbunyi maka Istirahat sudah berakhir. Aku melanjutkan belajar bersama dengan kawan-kawan lainnya. Pelajaran yang ia sukai adalah Matematika. Bab ini membahas tentang pecahan. Walaupun menguasai matematika begitu suka tak pernah lupakan menemani rumus untuk mengasah otakku. Sedangkan Vina pelajaran yang ia suka adalah Bahasa Indonesia. Setiap hari Vina mempelajari tentang Cerita pendek. Agak lumayan Vina bercakap setiap hari dengan Shofiana.

            Sepulang sekolah begitu semangat dengan sahabatnya sehingga merenggut kecerdasan demi esok. Vina pulang sekolah bersama dengan Mama. Meskipun tinggal di rumah yang begitu kecil tetap meraih tekadnya demi mengambil prestasi yang kita raihkan.

            Ngaji Sore biasanya sekelasku bersama dengan Vina. Bedanya Di Sekolah menduduki bangku di kelas semakin berbeda. Pak Achmad salah satu guru kita akan mempelajari tentang bacaan tajwid dengan baik dan benar. Ternyata ribut suasana apalagi dengan omongan nggak jelas banget sampai Pak Achmad memberikan hukuman kecil bagi setiap santri sedang rebut di Kelas. Ia hanya diam saja daripada gaya kurang jelas.

            Sudah menunjukkan jam 5 Sore akhirnya aku pulang ke rumah dengan selamat walaupun bertemu dengan Robby. Aku heran bertemu dengan Robby karena ia pernah pertentangan pada jam istrihat apalagi sampai cara kekerasan secara radikal. Pertemuan ini untuk mengembalikan egoisme kepada Vina.

            “Ivan!” Sapa Ivan muka terlalu tenggang

            “Kau Robby, Bukan kah kau bertemu ketika pertentangan saat jam istirahat. Mau apa di sini?” Jawab sedikit emosi terlalu kecil

            “Robby menyarankan buat kamu?”

            “Apa itu?” Ujarku sedikit bingung

            “Apabila engkau membahagiakan Vina. Lebih luasnya temukan titik kelemahan terhadap temanmu. Sedikit demi sedikit kelemahanmu akan semakin tinggi egoismu itu.”

            “Maksudmu gimana?”

            “Ikuti cara emosi sehingga kau juga mendapatkan titik temu tersebut. Jangan lupa ikuti apa yang harus kau perbuat.”

            “Tapi Rob….”

            “Sampai bertemu lagi Ivan.” Gumam Robby meninggalkan Ivan dari tempat Tersebut.

Aku kurang mengerti mengapa mendeteksi titik kelemahan emosi terhadap Vina. Padahal ketika hari berikutnya khawatirnya aku sedikit kecewa dalam sudut pandang tersebut. Bagaimana menghargai emosi tetap mempertahankan dalam menghadapi situasi seperti ini. Lebih baik pulang ke rumah tanpa menolah-noleh orang di sekitarnya. Orang tua sedikit membingungkan dengan Vina.

Mama terlalu menerima rasa simpati seperti Ivan orangnya gagah banget serta menjadi seorang teladan. Rencananya untuk mendeteksi seberapa jauhnya emosi terhadap Ivan. Belakangan ini Ivan tingkat emosi terlalu berlebihan. Oleh karena itu Vina fokus meraih nilai daripada aku sendiri

*****

Aku bersiap menuju ke sekolah untuk menuntut ilmu. Ketika perjalanan cuaca hari ini makin memburuk membuatku bersemangat di pagi hari yang cerah ini. Pelajaran hari ini adalah Bahasa Indonesia. Minim banget pembahasan tersebut sekiranya mencapai wawasan tingkat sedang.

            Aku menunggu di tempat duduk dekat kelasnya Vina menyampaikan kata-kata terakhir. Sebelum berbicara Vina sempat bereaksi kepada teman sebaya tersebut. Ia berfikir akhir-akhir ini Ivan sedikit curiga terhadap emosi tersebut. Shofiana mengatakan bahwa kalau kamu bertemu dengan Ivan sekaligus perpisahan terakhir. Syaratnya cuman satu kau nggak bisa melupakan saat pergi dari tempat yang kita injak selama ini.

            Vina dan Aku merupakan pertemuan terakhir dalam persahabatan di Sekolah SD yang tercinta. Salah satu mengesankan saat berteman yaitu terima kasih selama engkau menemani mulai dari belajar bareng, bersama-sama di sana hingga ngobrol setiap saat. Tak lama kemundian lebih memilih untuk tidak berteman lagi di lain waktu.

            “Ivan!” Sapa Ivan dalam wajah mengumam

            “Ya Vina, ada apa?” Jawab sambil beberapa pertanyaan dari aku.

            “Ini kita hari terakhir dalam persahabatan ini.” Ujar Vina wajah mengangguk ke bawah sambil mengiringi air mata.

            “Maksudnya?”

            “Kita artinya nggak usah berteman lagi sementara lagi Ivan sudah menempuh SMP.”

            “Tidak Vina jangan ngomong begitu kita masih…..”

            “Masih apa. Ivan dengarkan aku selama ini kita sudah waktu telah berlalu tapi di lain waktu kita tidak bisa berteman lagi.”

            “Waktu masih ada dalam hidupmu jangan pernah melupakan sia-sia kita.”

            “Maaf Ivan kita berpisah sampai di sini.”

            Kebaikan sudah terbelah maka kehidupan akan sedikit berbeda dengan lainnya. Keadaan seperti ini mengundang sedih tanpa berteman dengan Vina. Air mata masih menetes air terjun gara-gara tidak punya kesempatan untuk mencari sahabat baru. Tak lama lagi Aku melanjutkan kehidupan tanpa melirik Vina lagi. Di kelas tak tahan tangisan habis drama selama beberapa menit saja. Teman-teman ikut mengungkapkan sedihnya habis terpisah jauh dari sahabat itu.

            Pandangan jauh terasa tidak punya waktu untuk menemani maka teman tersebut banyak berusaha hanya mengembalikan perasaan teman. Pelajaran telah berlanjut fokus ke pelajaran.

            Sepulang sekolah tak tahan melihat perasaan terakhir begitu kurang menyenangkan hingga menurunkan emosi temannya. Kini ia telah berjalan yang beda melupakan interaksi satu sama lain. Apalagi Vina juga begitu. Ia berusaha untuk mengembalikan keadaan seperti ini. Banyak hal yang harus menghindar walaupun hujan telah turun menyelimuti kota.

            Malam hari telah larut. Belum tidur sedangkan aku belum pulih habis melakukan drama terakhir. Belum sampai menemukan titik kelemahan tersebut. Ingat kata-kata yang di ucapkan Robby Apabila engkau membahagiakan Vina. Lebih luasnya temukan titik kelemahan terhadap temanmu. Sedikit demi sedikit kelemahanmu akan semakin tinggi egoismu itu. Ikuti cara emosi sehingga kau juga mendapatkan titik temu tersebut. Jangan lupa ikuti apa yang harus kau perbuat. Sebelum memasuki jalur baru lebih baiknya melatih soal matematika menjelang ujian nasional.

            Semenjak kelas 6 SD pelajaran semakin siap dalam persiapan ujian nasional. Kini Aku duduk bangku bersama dengan teman regular berbeda duduk bangku khusus anak berkebutuhan khusus. Pelajaran semakin mengikuti dengan baik apalagi mengerjakan soal. Seolah-olah tingkat kesulitan terlalu sulit walau pelajaran sudah di pelajari dari awal hingga akhir.

            Ujung-ujungnya Suasana Vina lebih berbeda dengan Aku. Bahkan pelajaran yang ia mempelajari semakin gamblang. Prestasi yang telah meraih semakin banyak supaya ekonomi keluarga Vina semakin berjuang demi melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

*****

Semenjak masuk SMA bersama dengan teman sebaya lainnya. Tak terasa ingin menuntut ilmu menekuni jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial yang terbelah menjadi beberapa pelajaran peminatan. Ketika mengikuti pelajaran tetap menyerap ilmu yang telah di pelajari. Bermain bersama sambil melakukan ekstrakurikuler pingin banget belajar keagamaan secara bertahap.

            Sedangkan Vina kini menempuh pendidikan di SMP Negeri Kediri. Tempat tinggal sekarang pindah setelah betah beberapa tahun di Surabaya. Tak sejauh pun perasaan sudah berbeda dibandingkan tingkah laku SD. Belum tahu beberapa lama betah di Kediri. Vina lahir ke Kediri walaupun ekonomi keluarga telah berjalan hingga tidak tahu kapan berjalan-jalan ke Surabaya.

            Aku sedang les pelajaran tiba-tiba bertemu dengan Shofiana salah satu teman akrab Vina. Ia justru kagum banget persahabatan bagaikan pelangi mengiringi senyuman manisnya. Akan tetapi ada beberapa pertanyaan masih di ingat.

            “Shofiana!” Sapa Shofiana terlalu santai.

            “Ya Mas Ivan.” Jawab sapa Shofiana sedikit biasa.

            “Kamu ingat Vina.”

            “Ya ingat. Kenapa emang? Kamu pasti kangen sama pacarnya.”

            “Nggak kok.”

            “Bohong ya.”

            “Nggak basa-basi deh. Ya sudah kabari Vina kalau kamu ketemu.”

            “Oke mas.”

            Tak terasa kehidupan telah berbeda. Masih ada konflik di balik persahabatan yang belum terpecahkan. Aku masih menemukan ingatan pada masa kecil. Tidak sampai ke beberapa fase pertemuan tersebut. Mungkin Vina apakah ia bisa kembali setelah belum bisa reda habis konflik persahabatan masih jadi tanda tanya. Jadi Aku ingin mengejar ingatan pada persahabatan itu.



Surabaya, 6 Februari 2016

Friday, 29 January 2016

Selamat Datang Siswa Baru

Selamat Datang Siswa Baru
Hari ini ada kejutan dari Sebelas IIS 1. Yaitu Siswa baru yang berasal dari SMAN 4 Surabaya. Frisca Desantya Putri. Anak ini rumahnya di Sidoarjo. Aku akan menggambarkan oleh Frisca walaupun interaksi masih belum berani sama sekali. Frisca ini berawal dari sekolah di SMA Negeri 4 dengan tujuan untuk menggali potensi di sana. Di samping itu Ia berangkat dari rumah ke sekolah naik antar jemput bersama orang tua. Memang tempuh perjalanan selama beberapa jam dan menit saja agar bisa sampai ke sekolah dengan selamat. Alasan yang penting bagi Frisca, Pertama Anak perempuan sholeha selalu meneguh kepada guru dan sahabat. Kedua memperkokoh ilmu bermanfaat dan membawa pengetahuan hingga menjunjung ke Penguruan Tinggi atau yang lainnya. Terakhir alasan paling kurang tercapai yaitu Sampai saat ini masih enggan mencari kesulitan selama satu setengah tahun bahwa Frisca sering mengalami sakit.

            Karena Frisca nggak sanggup menjalani sekolah di SMAN 4 akhirnya selama ini orang tua bisa mengizinkan diri pindah ke SMA Negeri 10 Surabaya. Pak Suyono setuju dengan menyambut Frisca untuk mengucapkan Selamat Datang di Sekolah berbasis Inklusif SMAN 10 Surabaya. Menurut beliau SMAN 10 sebagai menggapai saudara dan keluarga terhadap kelas masing-masing. SMAN 10 Surabaya bisa mencapai standar dalam persaingan diri terhadap kompetisi. Setelah itu SMA bisa menjadikan Tetangga dan Saudara hanya mencoba mengenal sumber pengetahuan yang berbeda dibandingkan SMAN 4 sebagai sekolah Literasi. Frisca pertama kali belajar di SMAN 10 Surabaya merasakan masih diam dan mencoba interaksi baru. Lebih galak lagi tempat duduk yang ia sediakan selalu sulit banget. Jika teman-teman duduk bersama Adam Tresna merasa ia mau tapi teman-teman di minta Jangan Duduk di Situ karena orangnya makin jijik banget. Ia menempati di depan dekat dengan meja guru. Kemundian Frisca sudah mendekatkan kepada Guru dan Sahabat kita. Yah merasa Alhamdulillah juga apabila ada mengisi kekosongan di SMA yang penuh bahagia. Itulah Frisca migrasi ke SMAN berbasis Inklusif. Mulailah diri dengan mengisi ilmu dan teknologi hingga memisah antar waktu dan tempat saat menuju ke jalan yang terlalu berbeda.


 Surabaya, 20 Januari 2016

Saturday, 16 January 2016

Perjuangan tanpa Tanda Jasa

Perjuangan tanpa Tanda Jasa
M Ivan Aulia Rokhman
Bermula kecil belajar dari hal yang ku lakukan
Menemani Ibu telah membesarkan kita
Kini memasuki dari sekian lama untuk menyelamatkan tujuan
Tanpa merantau pandangan terlalu buruk
Sesungguhnya pandangan yang terburuk akan terjerumus oleh bawah sadar
Sampaikan pesan akan menyemangati diri sendiri

Perjuangan mengisi bekerja keras demi menggapai kebutuhan
Tidak hanya setiap hari dengan bekerja hingga semalam suntuk
Melainkan Bekerja mendapatkan apa yang telah dikerjakan
Tiada malas untuk mencapai cita-cita
Mengejar prestasi semenjak dari sejak dini

Bagaimana mengenang tokoh sesudah berjuang demi nusa dan bangsa
Melindungi hanya sebatas ancaman kita
Mungkin aku harus apa yang kita melihat
Tidak bisa engkau mencari jalan bagi orang yang bersengsara
Jangan melarikan masalah yang belum terselesaikan
Mengenggamkan tangan terhadap kerjasama
Bersatu untuk membangun tekad kita

SURABAYA, 15 January 2016

Terbelah Tanpa Pesan

Terbelah Tanpa Pesan
M Ivan Aulia Rokhman
Langit menyimpan cerita dalam berpisah
Sahabat mengenggam terhadap kesenangan disaat mengisi waktu
Rindu masih membekas dalam hati
Tak bisa menunggu hingga mengungkapkan melalu pesan pribadi
Walaupun melihat semua apa yang harus ku perbuat

Hujan menetes kesedihan demi mengenang sahabat
Sudah bertemu dalam masa waktu menyenangkan
Kini suasana di jalan merasa berbeda tidak seperti kenangan lama
Bagaimana lagi kita bisa melangkah kembali
Seandainya luka mengatasi dengan obrolan santai
Untuk membuka catatan lama setelah menulis sekian lama

Bumi mengelilingi pusat surya
Bulan mengiringi kisah tak pernah selesaikan
Hingga tidak bisa bertemu dengan menyampaikan pesan terakhir
Sebelum mengucapkan selamat jalan untuk mereka
Serta menyatu abaikan konflik telah merendam
Pesan terakhir bagaikan harapan terakhir
 sebelum menghembuskan nafas terakhir kita
SURABAYA, 15 Desember 2016

Konflik terhadap Si “Pembohong Besar”

Konflik terhadap Si “Pembohong Besar”
Semenjak kelas 5 SD membuat suasana pelajaran di sekolah makin tenang. Di balik konflik tersebut sering bermunculan. Saya pasti kurang tahu mengapa Fiqih ini sebagai “Pembohong besar.” Soalnya sejak dari kelas 4 selalu merengek ketangisan di tengah pelajaran sampai Bu Guru marah. Bingungnya Fiqih itu mengelu terhadap perkembangan belajar di sekolah bahkan Mama Fiqi pun kurang mendidik di rumah. Sedangkan siswa lainnya memandang fiqih secara terus-menerus. Dan hingga lingkungan ini banyak sekali siswa SD yang selalu rata-rata kebanyakan bermain dari pada belajar atau sebagainya. Saya pernah mengalami seperti itu.
            Mainan kita mainkan justru menimbulkan membuang waktu sampai sholat pun nggak berjalan. Namanya anak mau belajar sholat apalagi usia lebih dari 5 tahun sudah bisa sholat. Fiqih melirikku dengan sengaja. Omongan tak salah lagi sering bertenggang. Serasa teman-teman paling benci dengan perkataan secara berlebihan. Fiqih hampir bingung dengan teman-teman sendiri
            “Wahai bangsaku bagaimana engkau rela berkorban dan jasa demi kemanusiaan dan kedamaian.” Sahut Fiqi sambil pidato di depan kelas.
            “Hey kau, apa-apa ini jangan berpidato emangnya ini ruang public.”
            “Emangnya kenapa teman-teman apa selalu iri.”
            “Ini sekolah bukan untuk tempat berbincang-bincang.”
            “Apa yang kau lakukan?”
            “Kaulah tukang “Pembohong besar”
            Mulai sindir dengan habis-habisan. Tak bisa mengatasi dari hari perhari. Seringkali Aku mengecewakan terhadap perilaku tersebut. Hal tidak mungkin pasti bagaimana ia bisa kembali seperti yang dulu sayang tidak punya solusi lain. Coba aku mampir ke Ruang Guru untuk lebih lanjut tentang Fiqih sebagai “Pembohong Besar”. Ke sana lebih pelan-pelan tetapi Vina menatapku biasa saja.
            “Mas Ivan.” Sapa Vina
            “Iya Vina.” Jawabku penuh hati yang tenang
            “Lagi Ngapain?”
            “Ini mau mampir untuk ngomong ke Guru seputar masalah terhadap anak bandel.”
            “Yuk ke masjid?”
            “Untuk apa”
            “Kita melaksanakan sholat dzhuhur biar nggak ketinggalan.”
            “Oke tak jalan.” Sahutku mengikuti petunjuk dari Vina.
            Agar aktivitas nggak jenuh mendingan melaksanakan Sholat Dzuhur di Masjid supaya nggak ketinggalan. Di Masjid aku mengampuni oleh Allah dengan Do’a. saat hendak berdo’a Vina pasti lihat ternyata Ivan terlalu kasihan dengan Fiqih.
            “Ivan!”
            “Ya Vina”
            “Kamu kok sedih sih. Ceritain dong masalah apa yang menurut kamu saat ini?” ia menawarkan untuk bercerita entah curhatan hati kepada seseorang.
            “Begini Vina semenjak kelas 4 sudah berteman dengan Fiqih. Ia laki-laki yang kuat. Tangguh dan tidak pernah selalu mendurhakai orang tua. Terus mengelilingi samudera dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pasti mendapatkan pemahaman yang luas. Tetapi ia hilang dalam pikiran Fiqih. Teman-teman sebagian besar menyindir Fiqih akibatnya ia selalu berkeliaran di berbagai kelas hingga ruang lain. Tentunya Fiqih selalu bermain dengan aku. Seolah-olah gambaran itu hanya sebatas bulir kesedihan.” Gumam Aku sambil bercerita tentang Fiqih menemani wajah penuh kesedihan.
            “Ivan, Aku tahu gambaran Fiqih sudah biasa. Bagaimana lagi lingkungan sekolah sering mendapat kritikan dari teman. Vina juga begitu, ketika lomba Vina selalu grogi pas nampil. Alhamdulillah Vina dapat juara 2 Lomba Tilawatil Qur’an setingkat SD.” Ujar Vina mengungkapkan jawaban dari Ivan.
            “Emang bisa? Kamu gimana kok bisa menang?”
            “Belajar dan berlatih saja. nanti nggak bisa akan mempengaruhi malas dari kamu. Jangan berhenti sampai di sini. Nanti semenjak SMP pasti menemukan potensi dan Vina berpesan penting yaitu mencari kelemahan terhadap seseorang. Semakin akan mencari maka kelemahanmu akan ketemu. Caranya dengan perlu menyerang dalam titik tersebut. Faham nggak?”
            “Yakin Aku ingin mencari titik kelemahan itu?”
            “Insya Allah aku pasti bisa. Percayalah sama Vina.”
            “Baiklah akan ku coba.”
            “Oke aku pergi ke kelas dulu.”
            “Ya makasih ya Vin.”
            “Ya sama-sama Van”
            Curhat terlalu panjang tetapi tetap bisa mencari kelemahan bagi Fiqih. Semangat dan Tekad telah mulai. Fiqih mengacaukan teman dengan sindir terus-menerus. Teman-teman lainnya terlalu takut. Sepertinya Aku mulai berlari keruangan sebab ada bermasalahan dengan teman-temannya. Fiqih nggak bisa berhenti nakal tersebut. Aku masuk secara paksa.
            “Kau!”
            “Hey Ivan, apa kau ingin melawan denganku!”
            “Fiqih hentikan semua ini sampai teman-temanmu takut terhadap perilakumu.”
            “Aku nggak peduli ucapanmu yang bikin sakit mual menempel di lantai yang kotor ini. Ha-ha-ha”
            “Fiqih kau keterlaluan!”
            “Ayo sini panda yang manis.”
            “Aku tak takut Pembohong Besar”
            Aku dan Fiqi kini bertentang dengan cara kekerasan. Tanganku mulai menggenggam seperti pembalasan telah mulai. Fiqih sendiri mulai bereaksi. Aku belari cepat langsung menonjol wajah secara keras. Luka telah mengeluarkan ambisinya. Kerah baju Fiqi mengenggamku lalu menatap wajah ke wajah dalam berbaring. Serasa mengambil tindakannya
            “Fiqi!”
            “Ya anak rakus.”
            “Selama kau sudah berbeda.”
            “Mau bagaimana lagi aku sudah punya tujuan yang berbeda dibandingkan kamu pembunuh kejam.”
            “aku tidak peduli dengan perkatanmu yang menjijikan terus menghina apa yang engkau perlakukan.”
            “Oh ya bagaimana nasib kau anak rakus.” Sindir Fiqih dengan radikal.

            Konflik pembohong besar denganku menjadi sasaran incaran kita. Suasana semakin memburuk. Aku tidak punya pilihan untuk mengatasi anak Pembohong besar. Fiqih sekarang sudah berbeda tanpa memedulikan aku diri sendiri. Pantaskah bisa mengatasi dengan perang face to face dalam bentuk yang berbeda. Aku dan Fiqi kini berakhir musuh dalam persahabatan. Pola fikir berbeda dari orang lain. Konflik masih berlanjut…..

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...