Monday, 22 February 2016

Kegagalan

Kegagalan

Mungkin tahu semua manusia pasti tidak tercapai
Atau bermasalahan di tengah waktu
Kini hanya menikmati kecewa dalam hidup
Kalah itu berawal dari kesuksesan
Bila aku mengejar waktu namun hasilnya akan sia-sia
Tuhan merasa sedih terhadap amal perbuatannya

Kita tahu tujuan belum terwujud karena perbedaan
Bagaimana lagi cara menentukan masa depan hanya merangkai khayalan
Stress membawakan pikiran kacau
Penderitaan sebagai korban dari kewajiban
Hingga ingin berfikir kembali
Entah sampai kapan engkau berusaha

Tidak sengaja melewati lubang
Walaupun satu dari seluruh orang melewati kemenangan tetapi tidak menggapai hasil
Tentu saja pulang membawa tangan kosong
Kesenangan di tengah kemalasan
Malas itu hanya tidak memenuhi kewajiban
Tak bisa memberikan petunjuk
Akhir dari segalanya jika engkau mati dari segala kemungkaran

Surabaya, 21 Februari 2016

Kemaluan

Kemaluan

Kadang lupa dengan sesuatu
Apakah ia mengaku persiapan hanya belakangan
Waktu telah berjalan meski tengah bermasalah
Tidak punya pilihan selain menjalankan kewajiban
Hanya tuhan yang memberikan kemudahan pada kita.
Tak bisa ku biarkan emosi telah merendam

Tiada berdaya aktivitas di jalani dengan seadanya
Tundukkan kepala lalu memberikan nasehat pada kita
Hanya untuk memperbaiki kekurangan pada esok
Bagaimana lagi cara mengejar tertinggalan
Mungkin bila melewati sesuatu akan menilai dalam suatu kebaikan

Tenaga dan waktu seusaha mungkin
Tanggung jawab tidak di jalankan
Seolah-olah malu sebagian dari iman
Ia paksa untuk mengerjakan sesuatu setelah berjalan kosong
Lupakan percaya kepada orang
Hanya teman yang saling mengingatkan.
Malu juga merangkai kesalahan di kemundian hari
Daun menetes air mata
Tanpa menjawab sebelum lari ke jalan keluar.

Surabaya, 20 Februari 2016

Friday, 19 February 2016

Keberanian

Keberanian

Manusia lelaki memliki kekuatan fisik
Semenjak kecil sudah mengajari cara keberanian menghadapi persoalan
Kunci itu menentukan kemauan
Seolah jauh tekad tanpa berhenti
Waktu terus berjalan
Demi melengkapi keberhasilan

Tanggung jawab sebagai kunci utama
Hindarkan kesalahan pada pribadi
Lupakan kemaluan hanya melindungi
Tak menyangka kekuatan tulang perlu energi
Energi mengalir serta bekerja pada tulang.
Seperti mengangkat besi begitu berat untuk menguatkan impian
Gapailah kesuksesan dalam kebersamaan

Meraih semangat dalam menjalankan hari
Kobarkan api mengenggam tangan di atas langit
Melambangkan sebagai manusia harus berani
Selamatkan diri dari berbagai masalah
Jaga diri dari tidak yang di inginkan
Lupakan bersenang-senang hanya membuang waktu dan perasaan
Bersama tujuan menembus keinginan kita

Surabaya, 19 Februari 2016

Thunderstorm of The Stream

Sejak kelas 5 SD aku menempatkan di kelas reguler. Bayangkan suasana kelas makin kacau apalagi melihat situasi yang kurang seru. Apalagi mengingat daya ingat makin naik. Pelajaran demi pelajaran telah menguasai dulu ujung-ujung menimbulkan permasalahan. Masalah yang terjadi ini berat lho. Te man-teman melirikku bahwa aku sebagai orang tidak berkemanusiaan terhadap perilaku di sekolah. Dyah Ayu menatapku kejam sekali dan di kira ternyata perkataan yang nggak jelas.
"Hey kau cemen!" Sindir Ayu memanggilku Cemen.
"Apa yang kau lakukan" gumamku agak sedikit malu
"Jangan kau mendekatiku dan teman-teman" Jelas Ayu memberikan larangan dalam sahabat
"Emangnya nggak boleh"
"Tak bol....."
"Kau pelakunya......" Ucap X selalu meredam konflik
"Siapa kau" Tanya Ayu menggarut kepala.
"Ivan larilah dari tempat tersebut"
"Tunggu siapa kau?"
"Cepat larilah!!!"
"Aku serahkan padamu tanpa nama" Kata aku menghargai ucapan mereka dan lari dari tempat.
Tak menyangka ada seseorang yang ingin membalas amarah begitu parah. Ayu heran siapa sosok tersebut. Sosok ini muncul ketika Petir menghampiri tempat. Memang orang memiliki elemen listrik. Tidak ada bukti sama sekali kemana tujuan sosok tersebut.

Aku terus lari dari tempat. Vina berhenti di lapangan. Kemungkinan aku tidak tahu apa sebenarnya yang ku tuju. Aku berfikir dalam hati "Bagaimana caranya aku ngomong dengan Vina. Apa jangan-jangan ia membalas budi karena punya tujuan yang berbeda-beda atau bukan ya."
Aku melangkahi pelan-pelan anggaplah obrolan santai. Badai pasti tertiup angin putin beliung.
"Ivan" Sapa Vina
"Iya Vina. Kau ngapain?" Jawabku secara lontar dalam ucapan
"Kau tahu Ivan mengapa akhir akhir ini masih sadar kembali?"
"Sebenarnya aku tahu karena jiwaku dan....."
"Sudah terbukti gara-gara kakekmu wafat aku sudah melihat gambaran dari sisi hidup"
"Darimana kau tahu tentang gambaran kakekku."
"Lihatlah kekuatan fisikmu. Dan kau akan....."
"Diam kau brengsek! Kau sudah berbeda dari kekanak-kanakan."
"Aku lah yang menjadi incaran adalah kau"
Aku heran sekali kesadaran Vina sudah berbeda dengan pembicaraan. Walaupun kelas 5 masa perbedaan sifat maka aku memilih untuk memecahkan persoalan tersebut.

Sama sekali curiga Vina meninggalkan diri dan sebuah  pesan terakhir menjadi. persahabatan. X dan Ayu masih memecahkan permasalahan perilaku tetapi cuaca hujan telah turun secara lebat.
"Ayu. Sebenarnya kau ini mengancam teman utama. Kecamkan baik-baik."
"Aku tidak mengerti perkataanmu. Bebaskan secara mungkin nikmati bebas daripada kamu"
"Jadi kau begitu ya?"
"Ya. Sungguh cengesan banget kau habis ke tabrak cewek untuk melindungi hak warga hanya cara terburuk untuk kamu. Kau memang menjijikan tahu."
"Menjijikan ya. Kalo begitu hukuman akan menerima sebagai perkataan buruk bagi kamu."
"Hey Bapak nggak pintar"
"Selamat tinggal orang kafir"
Petir menyambar Ayu sebagai menerima hukuman kepada perkataan yang mengandung tercela. Tiba-tiba aku mendengar kematian teman sekelas dan langsung kembali ke tempat. Suasana sudah terlambat. Kini Ayu berbaring karena menyambar petir pada bagian tubuh.

Nyawa sudah tak tertolong lagi. sudah seharusnya Aku tetap mengabdi pada teman malah berujung konflik. Aku duduk dan merenung saja. Tragisnya jasad teman tersebut memasukkan ke liang kubur. Aku menangis dengan kejadian seperti itu. Sosok muncul kembali.

Mungkin aku melirik sosok yang tadi menyelamatkan dari konflik. Baliknya justru menanyakan beberapa hal.
"Sebenarnya anda ini siapa?" Tanyaku mengenai sosok.
"Belum saat yang tahu siapa yang sebenarnya?" Jawab X masih menyembunyikan nama tersebut.
Manusia X mempunyai kekuatan yang terkait dengan elemen petir. Sejak usia 35 tahun ia menempuh kuliah S-2 Psikologi. Ia yang makin memprihatikan mengapa manusia tidak bisa terkontrol. Mahasiswa masih menjalankan tugas kuliah maka X ini melakukan perpecahan di dalam sekolah tersebut. Di kelas 3 ia menemukan bekas pembunuhan tiba-tiba si Shofiana berdatangan di lokaso kejadian. Ia menyangka bahwa siswa SD membunuh siswa yang terjangkit narkoba. Belum pasti jelas siapakah pelaku tersebut.

"Ingat semua ini adalah perpecahan masa lalu untuk dan kau harus menemukan titik kelemahan." Sahut X memberikan kode padaku dan memerintahkan untuk mencari solusi tersebut.
"Jadi begini suasana ini jadi memburukan"
Tiada pasti kemanakah Vina pergi. Aku mempersiapkan senjata untuk memberantas kasus tersebut serta mengejar Vina yang sudah pergi dari kota tersebut. Aku menjelajah ke daerah demi mengatasi walaupun hujan dan angin menyelimuti semangat mencari kebenaran. Inilah tujuan yang sebenarnya. Vina aku akan pulang ke Rumahmu.

Wednesday, 17 February 2016

Kesengsaraan

Kesengsaraan

Sengsara bisa memunculkan emosi berlebihan
Apakah tahu mengapa hidup serba tidak adil
Karena hidup ini menyisahkan perbuatan yang sudah tega meninggalkan perkataan
Serta lisan yang mengandung tanda fitnah
Ini terjadi jika godaan setan menyerap manusia yang menganggu hidup
Malam menyisahkan cerita yang buruk
Hingga tidak menilai harganya

Makna itu sebuah kekosongan
Tak menyangka semua catatan kebaikan telah membakar lembaran
Ketika menikmati hidup secara euforia akan terjadi hiburan yang kurang bermanfaat mengubah jadi kemunafikan

Seperti api yang menyala
Siksaan itu menyakiti perasaan
Hati semakin sedih
Hingga tidak mendapatkan apa-apa
Apapun yang terjadi akan terjadi konflik dalam hidup
Menghancurkan tujuan yang kita jalankan
Tak bisa berhenti amarah terus merendam

Ia tidak bisa mengatasi kondisi yang memberatkan
Lihatlah rakyat kita yang mengalami krisis
Sampai kasus telah tiba
Membunuh dalam kesadaran yang sia-sia
Akhlaq bisa merusak kebaikan jika terus mengalami kegagalan
Tak bisa apapun ku rasakan

Jika engkau tidak bisa mengabaikan genggaman
Hidup terbelah dalam waktu
Mungkin ketika meninggal dunia
Tiada meminta maaf bagi seseorang
Kuburan telah menjemput
Peradilan akan perhitungkan amal selama di dunia
Kini akan menikmati adzab yang pedih
Bagi manusia yang berdosa

Surabaya, 18 Februari 2016

Reason

Reason

Sejak kecil aku melakukan ilmu agama di mushola. Ketika sore justru datang agak telat khawatirnya sudah sampai ke mushola malah menanyakan tentang "apa sudah sholat atau belum?" Daripada sholat jamaah di musholla lebih baik melaksanakan kewajiban dari guru. Berangkat ke mushola naik sepeda pancal. Di perjalanan situasi makin memburuk. Begitu bersapa dengan teman pandangan pasti pecah. Tidak tahu apa sih salah denganku? Sampai di tempat belum mulai melainkan anak anak asyik bermain dan aku nunggu dengan seadannya.

Ketika guru datang memberikan ketenangan pada santriawan-santriawati. Paling aku sedih jika sholat sambil bersuara. Seringkali ia belum mengerti etika sholat berjamaah bagi anak-anak. Guru menyampai pesan secara drama. Saat mendengarkan aku mengangguk pada pandangan sujud. Bu Fauziah mengatakan bahwa sholat bisa memandang ke arah sujud. Reaksinya Wulan dan Ayu melihatku. Ia di anggap memang anak sholeh nggak punya pengertian. Aku berfikir dalam hati "mengapa sih pandangku semakin buruk. Apa jangan-jangan ia rencana untuk menyalahkan hanya mengganggu pribadi." Sampai saat ini konflik masih berada di tengah reaksi.

Tak menyangka sepulang ngaji konflik telah muncul. Bagaimana reaksi teman-teman tersebut secara percuma banget. Aku lari di pintu belakang. Ternyata belum berhasil karena di blokade temannya. Aku coba lari ke pintu depan cuman nggak berhasil juga. Meleset nggak mempan teman maju ke hadapanku
"Hey Kingkong!" Sindir Taufiq dengan sebutan "kingkong"
"Ada apa? Aku mau pulang." Balasku wajah berkeringat dan tidak mengomentari apa pun.
"Kingkong kau hanya menyalahkan apa yang kau perbuat. Kami akan memberikan kejutan."
"Kejutan apa? Nggak jelas ucapan elo."ujarku dengan tidak percaya memanggil kongkong.
"Oh gitu kingkong nggak berbalas budi. Teman-teman berikan tepung dalam wajah kingkong"
Tepung menaburi wajahku menggambarkan kejahilan pada teman sebaya. Aku sedikit kualahan jadi semakin memburuk. Teman teman pada pulang serta aku pulang dengan bekas tepung pada bagian wajah, baju, sampai ke kaki. Matahari telah terbenam aku langsung pulang ke rumah tanpa melihat tanda dari seseorang.

Wulan dan Ayu langsung bertemu denganku. Sebenarnya apa masalahku. Dari tujuannya menanyakan tentang sahabat pertama Vina.
"Ivan." Sapa Wulan
"Ya Wulan kenapa kau menemuiku. Apa masalah denganku?" Batinku sambil menyinggung perasaan setelah konflik kecil dengan teman-teman.
"Kenapa kau bersahabat dengan Vina?" Tanya Wulan soal pertemanan pada Vina.
"Coba jelaskan saja. Aku ingin tahu" Tanya Ayu juga memberikan penjelasan pertanyaan tersebut
"Sebenarnya berteman dengan Vina karena ia sahabat pertama sejak SD. Jadi ia bertujuan untuk menemukan rahasia hidup kepada perasaan seperti ini. Sampai sekarang aku belum cerita pada Vina. Sebab aku gugup." Jelasku mengeluarkan air mata dalam wajah
"Bukan hanya gugup. Wulan tahu gambaranku. Tetapi jangan terkecok dalam pribadi. Melainkan perhatikan sudut pandang sahabat. Kau tahu pasti ada tujuan itu." Sahut Wulan melanjutkan penjelasanku.
"Ivan juga begitu cari alasan dulu kami bukan musuhmu melainkan cari kelemahan pada setiap fisik pada seseorang" Kata Ayu memberikan nasehat padaku.
"Terima kasih teman-teman. Ivan mau pulang ke rumah dulu."
"Hati-hati dan jangan lupa mandi habis kena tepung"
"Ya."
Perjalanan menjadi pelajaran bagi kita. Sebagaian besar aku meremehkan teman-teman dan memberikan ungkapan bagiku. Sampai sekarang aku menyangka kenapa perasaan seperti ini. Aku akan membalas perbuatan yang sebenarnya.

Manusia Teladan

Manusia Teladan

Manusia dari kecil selalu menumbuhkan usia kita
Kadang pula memulai sejak buaian ibu
Pertama kali melihat sudah ingin melepaskan kandungan bayi tersebut
Melahirkan dalam keadaan suci
Ibu sudah rela memberikan anak yang sehat
Baik sehat maupun anak sholeh serta sholiha
Usia berawal dari menyayangi ibu untuk mengembangkannya
Dengan mempelajari dalam pendengaran dan penglihatan
Seperti boneka memeluk anak hingga bermain setiap saat

Memasuki masa belajar ia begitu cerdik dan kreatif
Semasa masuk sekolah bertemu dengan sahabat sebaya
Tak akan lupa mengingat nasehat terhadap orang tua
Hingga membesarkannya
Kerja keras tulang membanting hingga membawa hasil
Seorang lelaki tidak boleh malu
Seorang lelaki tidak boleh takut
Keberanian adalah suatu jalan menuju keberhasilan
Sukses meraih impian
Membantu dengan sesama

Seiring umur sudah beranjak dewasa
Karena sudah bertanggung jawab terhadap diri sendiri
Tunjukkan tekad dan ulet kita
Bagaikan api terus berkobar
Semangat demi cinta tanah air
Membasmi dari kemasalahan
Capailah cita-cita yang kita meraih

Manusia Teladan tak lepas dari kenangan
Mungkin akan berbakti dan mengabdi pada orang lain
Kuatkan iman dan taqwa kita
Allah selalu akan melindungi dari suatu godaan
Beriman tetap rela berkorban dan tabah
Memiliki rasa syukur dan ikhlas
Seolah olah manusia akan meraih ridho pada tuhan yang maha esa
Jangan pernah menyerah
Percaya akan selalu jujur
Melalui hati yang tulus

Surabaya, 17 Februari 2016

Teka-Teki Emosional terhadap Masa Lalu (1)

Dari kecil sengaja melihat keadaan yang baru. Tak menyangka sejak kecil pandang selalu kedap-kedip dalam mata. Mengikuti kedap-kedip terikuti padamnya listrik ketika malam hari.

Saya mungkin mengapa kedap kedip bisa mati lampu. Berdasarkan sudut pandangku sebab mati lampu bukan kedap-kedip melainkan mendatangkan masalah dalam masa lalu. Pagi hari ia melirik sana-sini. Ibu tega banget anak ini bandel.

Ibu tak tahan melihat aku maka ia terpaksa menyiksa kecuil terus membawa ke kamarnya untuk mengurung selama beberapa jam. Aku harus bagaimana? Cara melarikan diri dengan ide. Bingungnya Ibu beraktivitas seperti bisa tidak seperti drama tadi. Nantinya aku bakalan siksa lagi.

Kakek sedang melihatku dalam kamar kakek. Tak seharusnya kakek lagi mendengarkan radio sedangkan aku hanya menikmati popmie yang sudah beli. Kakek curiga denganku
"Ivan" Sapa kakek
"Ya kek, ada apa?" Jawabku dengan muka biasa
"Kakek merasa aneh banget" gumam kakek sedikit bermasalah dalam keluarga
"Kenapa kakek ada masalah" tanya dalam lantang.
"Van, maafin sebenarnya apa yang harus ku jalani tapi setiap saat selalu bermasalah dengan pandangan orang"
"Kek, sudahlah jangan di fikirkan. Yang penting harus tahu gimana kebaikan kakek."

Seingat suasana kakek jadi begini. Semenjak mengunjungi kuburan kakek. Tempat istirahat untuk kakek sejak tahun 2001. K.H Ahmad Suyono salah satu tokoh Addimiyati. Ia mendirikan sejak lama. Kakekku telah mengabdi dan mengasihi kita. Yang menjadi bahan pertanyaan dalam kuburan kakek berupa pemikiran sudut pandang secara kritis.
"Apakah lupa masa kecil ketika bertemu dengan kakek dan mengapa kehidupan selalu bermasalah dengan kejiwaan?" Sampai sekarang aku pasti belum menemukan jawaban.

Semasa kecil saat bersekolah merasa ada sedikit bingung dengan pelajaran apalagi guru menatapku secara mata ke mata. Seiring guru memberikan pertanyaan kepadaku cuman aku sedikit gugup.

"Ivan" sapa Guru terlalu biasa
"Iya Bu Guru ada apa?"
"Kamu ke sini untuk bersekolah. Apa tujuan kamu masuk sekolah islam?" Tanya Guru dengan menggunakan pemikiran secara kritis.
Aku sedikit mengeluh
Sebelum di jawab ada selalu 2 kemungkinan. Pertama apabila ia betah lalu mendalami ilmu agama maka ia akan terjebak dalam suasana. Kedua bila aku berhenti dari sekolah maka seolah-olah orang tua sem akin tenggang terhadap perilaku anak. Sebagai respondensi aku memutuskan untuk berhenti sekolah karena tak betah dengan komunikasi antar guru dan anak. Sepulang sekolah aku terlalu khawatir dengan interaksi. Sayangnya belum pasti jelas kapan kesadaran bisa kembali? Jalan hari dengan apa adanya.

Semenjak ingat kembali misteri dialog antara aku dan guru menjadi sebuah kunci rahasia kehidupan semasa kecil. Apapun resiko belum sampai pada berlanjut usia serta pesan terakhir sebelum keluarga kita pindah ke Surabaya.

Tuesday, 16 February 2016

Tentang Waktu

Tentang Waktu

Waktu adalah Uang
Tidak hanya ingin mendapatkan uang
Waktu seolah-olah ingin mencari kesuksesan
Tiada kata mengeluh
Untuk meraih usaha kita
Jalankan hari dengan bekerja dan menuntut ilmu demi meraih dunia dan akhirat
Waktu terus berjalan
Tanpa berhenti setiap saat

Alangkah usaha kita membandingkan tulang
Memberikan ujian dalam segala cobaan
Allah akan selalu memberikan kemudahan pada manusia
Jangan sekali waktu yang kita jalani akan menumpukan bebannya
Lihatlah mereka bahwa isilah waktu dengan bahagia dan menyenangkan
Tidak akan meremehkan berjalan detik, menit, maupun jam
Hari terus maju tak bisa mundur
Apabila mundur maka melampui masa lalu mereka

Waktu menjadi bermakna
Karena setiap berjalan akan menghasilkan proses yang kita jalani hingga berujung keberhasilan
Memperbaiki diri jika kegagalan
Kegagalan adalah awal dari usaha
Kesuksesan akan meraih jalan yang benar
Kuatkan passion kita
Bekerja tanpa berhenti jika terus melangkah
Maka akan menciptakan sesuatu yang di rencanakan hingga terwujud
Peduli dengan sesama menjadi anugrah dalam tuhan
Kejarlah waktu untuk mencari jalan keluar dalam suatu masalah
Tekad terus berjalan
Meraih mengenggam tangan
Demi masa depan yang lebih cemerlang

Surabaya, 16 Februari 2016

Monday, 15 February 2016

Langit dan Bumi 2

 Langit dan Bumi 2
Alangkah indah menata bumi yang luas bagaikan planet mengeliling tata surya
Semata-semata bumi menghampiri alam semesta
Atmosfer berisi permukaan bumi yang begitu dahsyat
Senantiasa tuhan telah menciptakan makhluk hidup dan alam sekitarnya
Lihatlah pagi meluas samudra biru
Sungai mengalir udara sejuk dan burung berkicau
Pelangi menyelimuti pagi cerah serta merangkai awan terdapat oksigen
Seolah olah oksigen telah menghembuskan udara kebaikan
Cuaca menemani hari sambut dengan ceria
Matahari begitu berbinar-binar
Cerminkan setiap hari mengisi waktu tanpa berhenti bagaikan planet berputar dengan sudut tiga ratus enam puluh derajat
Hingga hari akhir tanpa bisa melihat dunia dengan seisinya
Mungkin benar langit bertahan hingga menuju terbenamnya matahari
Malam menyambut bintang yang kilau
Bintang bagaikan garis tak ada batasan
Seperti bumi dan bulan saling bertemu satu sama lain
Tengoklah ke atas bahwa gerhana matahari muncul pada saat setiap tanggal dan bulan
Gerhana menutupi cahaya terang
Setiap malam bulan terus menampak
Fenomena terus bermunculan
Hingga saat ini kapan yang ku akan terjadi
Maka sewaktu-waktu alam tak bisa terhitung hanya pemandangan yang luas tanpa berhenti
Surabaya, 15 Februari 2016

Sunday, 14 February 2016

Tangisan dalam Duka


Tangisan dalam Duka

M Ivan Aulia Rokhman

Manusia sudah tak bisa menolong nyawa-Mu

Hari telah berakhir sampai di sini

Seperti daun kuncup sekali sentuh hampir gugur

Walau tak bisa bertemu lagi selamanya



Ucapkan selamat jalan kepada semua

Kini tangisan berjatuhan dalam tubuh

Bagaikan air merubah salju menjatuhi tubuh-Mu

Hanya Tuhan yang maha tahu atas segala sesuatu



Kau siksa rasa rindu ini

Rindu untuk berbincang, bercanda, dan bersama meraih mimpi

Jalankan dirimu bayangan saja tak dapat ku jumpa

Walau engkau tidak punya pilihan saat di alam kubur



Tangisan di iringi meski tak kuasa menahan air mata

Sampaikan pesan sebelum berjalan di alam sana

Jangan lupa pesan itu sebuah petunjuk

Untuk melangkah ke jalan yang lurus



Surabaya, 5 Desember 2015

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...