Monday, 2 January 2017

Tidak Di Sini

Tidak Di Sini

Mungkin mengapa aku di sini?
Seharusnya aku bukan orang biasa
Tapi lebih baik turun panggung
Entah harus ngomong apa?
Layaknya untuk apa di sini?
Ini sebagai hiburan belaka
Malu di depan orang berbaju mewah

Tuhan merasa sedih di hadapanku
Berlari di rumah
Sambil menangis di tutupi bantal
Aku bukan terkenal
Melainkan manusia cemen
Ku tak tahu harus bicara apa
Itulah tujuan hidupku

Surabaya, 28 Desember 2016

Divonis

Divonis

Waktu untuk bertahan di penjara
Diputuskan oleh Hakim pidana
Segera jatuhkan
Para saksi dan penonton akan disimak
Atas melanggar kriminal dan etika
Yang melecehkan orang, kerabat, dan tetangga

Inilah melemahkan hati
Tak sanggup menahan rasa bahagia
Betapa hukum akan jemput
Kursi daun disambar oleh api membara
Bagai neraka dicabut hukuman mati
Demikianlah kau akan dipenjara
Selama lima sampai sepuluh tahun dipenjara
Membekamlah kepadamu
Segeralah masuk ke dalam jeruji
Selamat tinggal hidup bahagia

Surabaya, 3 Januari 2017

Sidang

Sidang

Tempat untuk terdakwa
Menyaksikan oleh ratusan peserta
Bersama dengan pakar
Ahli hukum, forensik, psikologi dan para hakim
Betapa hati terbelenggu
Dipandang yang panas
Memulai sidang putusan
Divonis akan menanti
Hidup tak bisa merubah
Tiada kesempatan lagi

Membangkai dosa
Terpendam ke penjuru awam
Justru ungkapan penuh haru
Orang tua korban jatuhi sanksi
Serta masuklah ke dalam jeruji
Untuk selamanya

Dan selamat dari masalah berat
Tuhan dipertimbangkan pada dia
Engkau tahu melepas dari peluru tajam
Melusuk luka
Anggaplah rumah penuh bergejora begitu pedih
Di hadapannya

Surabaya, 3 Januari 2017

Keramat

Keramat

Mengendalikan roh
Bermula dari nenek moyang
Berkisah dari sakit hati
Di sebuah tempat yang dikeramati
Membunuh di sini
Lawang sewu terdapat roh halus
Dipenjuru ruangan
Pohon beringin bertebar malam

Manusia memaksaku
Merasuki roh tak tampak
Ku bicara dengan mulut sangat keriput
Tak pantas ku bahagiakan
Merantaskan kutukan

Beracun dan tersirna dalam tidurmu
Tidak hidup lagi
Menepis murka
Memusnahkan dalam nasibmu

Menodai mata putih
Berjalan pelan berbungkuk
Ku terjebak pintu kematianmu

Surabaya, 3 Januari 2017

Diorama Hujan

Diorama Hujan

(1)
Gerimis melanda kota
Rintik-rintik air tanpa tersisa
Tak bisa apa-apa
Betapa kejutnya ingin pulang
Bersegeralah sebelum malam larut
Jangan lama-lama di sini
Karena keluarga telah menunggumu

Lekas waktu menjelang luka perih
Membentengi perasaan
Begitu meriam di sekujur badan
Lesu melekang sini
Daripada pulang diterjang alam kehujanan
Lama-kelamaan akan sakit
Ku berbaring dengan tidur
Menghabiskan waktu hingga terang

(2)
Pohon yang tumbuh
Ku bertahan hingga hidup-hidup
Langit dan bumi menutupi badai

Bukan lagi cerah
Atau bukan lagi bersinar
Melainkan datanglah
pandangan yang sirna

Menebur di angin
Gerimis menepi di hutan
Daun menyentuh air tetes
Berkumpul menjadi satu
Bagiku batang agak rapuh
Luyuh diterjang akar merintang

Seakan-akan batang akan tumbuh
Menabrak kepohon lain
Hingga meredup kemusnahan
Membekas ketenangan bercampur indah
Mengorbankan tumbuhan
Penuh berlangka

(3)
Tidak hanya hujan
Yang berisi air
Tetapi pemandangan akan beda
Hujan salju menerka kota barat
Bercampur angin begitu berhambar
Sulit berjalan maju
Bertumpuklah sebuah es

Suatu yang ekstrim
Sama dengan cuaca tak bersahabat
Mengikis ampuh meniup dingin salju
Menerjang mereka
Tidak nahan menangisi dibeku jadi es
Mati di musim dingin
Sembuh dengan kehangatan yang murni

(4)
Hujan air dengan es
Angin memendam langit yang berbeda
Dengan segala yang membangkai waktu
Perangilah di langit aurora
Hujan mendatangkan asap
Berasal dari suku yang berbeda

Setiap engkau memanggil
Keramat akan mengubah warna
Menjadi alam kapur
Betapa bersinai di warna yang megah
Menutupi kesedihan di paku

Beranah di warna pelangi cerah
Hujan tak mampu mengeluarkan gelombang tinggi
Menggeram di sudut pantura
Ia mengelapkan hidupmu

Surabaya, 3 Januari 2017

Hujan Bulan Januari

Hujan Bulan Januari

Awal tahun baru
Berjumpa dengan kembang api
Menyambut penuh bergembira
Senangnya malam tahun baru di sini
Namun apa yang terjadi?
Menurunkan hujan dengan deras
Semua berlari di tengah kain yang basah
Membendungi waktu yang di laknati umat
Sungguh sakit yang meraba

Rentang waktu
Tak sampai fajar membentangmu
Malam penuh keheningan
Bukan saatnya bereuphoria
Berletas luka pada di langit awam
Sepenuh tiada jujur

Sebelum pulang ke rumah
Ku dampakan menendang punggung
Ulah tahun baru menyongsong sengsara
Menimpa ternoda oleh badai hitam
Tak bisa menantimu sekarang
Menunggu lama sampai mencetus air mata
Gerimis datang lagi

Sampaikan tuhan
Meski kehendak pada sang guru

Surabaya, 2 Januari 2017

Kembali ke Sekolah

Kembali ke Sekolah

Tak rasanya
Dua minggu telah berlalu
Kini kembali ke jalan benarmu
Untuk menuntut ilmu di Sekolah
Ku sambut pagi dengan memasuki gerbang
Setengah tujuh untuk kalangan negeri
Dan tujuh pagi untuk kalangan umum
Memihat jalan kaki
Menggores pena yang tertinggal
Di simpangan ruang kelas

Menduduki siswa banyak
Canda tawa mulai berkeliar
Tak menggugah wajah begitu pedih
Melalui hari

Yang ku tempuh
Hingga akherat melayang amal
Terhadap cemerlang bagi umat
Tanpa memucat perilaku
Meraihlah masa yang batang untuk di pendam
Toga telah menantimu

Surabaya, 3 Januari 2017

Hujan

Hujan

Air telah jatuh
Berasal dari langit
Menghantam rasa senang
Sedih akan datang
Tak bisa pergi jauh
Hanya menunggu beberapa saat

Memucat lesu
Gerimis menggeram nafsu alam
Sekadar makna yang panjang
Sungguh ku ingkari janji
Tanggal ditepati
Namun nekat menerobos waktu

Di sini sepi
Takut sakit menerjang virus
Sungai meluap
Hingga berukuran manusia dewasa
Tiada berakhir di sini
Kecuali di akhirat akan tiada kehidupan

Surabaya, 2 Januari 2017

Sunday, 1 January 2017

Selalu Mengalah

Selalu Mengalah

Aku betapa kecewa
Dengan kalian
Gugup dalam mengejar waktu
Tak bisa tertinggal
Ulah layar tersambar mata manusia
Pergi melenyap di ujung kalbu
Lenyap sudah
Tekad tersina oleh mimpi

Tidur menutup mata
Tertangkis lalu memutus asa
Semua karena takdir
Tiada jalan lain selain dia
Mungkin memungkiri
Bahwa rasanya digugur
Pena dihabis zaman
Hujan menyerka bulu
Batu terlempar pada laut
Tidak bisa menahan ketenangan
Aku nangis
Di hadapan manusia juara
Ku pergi tanpa percaya sama aku
Retak waktu yang direntang

Surabaya, 1 Desember 2016

Pentas

Pentas

Panggung terhias topeng
Menampilkan suatu pertunjukkan
Diperlihatkan oleh ribuan penonton
Memeragakan suatu perasaan dan emosi ku remuk
Tanpa melempuh waktu
Ku jalani hikmah

Serasa indah menggugah anugrah tuhan
Menetes air dihampiri oleh drama cinta
Menghibur dengan kata-kata yang lucu
Memikat di ranah manusia
Serdadu tisu menderai wajah
Menepuk sebelah tangan

Surabaya, 1 Januari 2017

Senandung Surabaya

Senandung Surabaya

Terlintang
Pada kota pahlawan
Menyimpan segundang sejarah
10 November 45
Sebagai hari pahlawan
Terdapat bangunan runtuhan melawan Mallaby
Jembatan merah didirikan
Puisi dikenang sepanjang masa
Terkagumlah hanya satu

Seperti terbayang oleh pemuda
Membalikkan Bung Tomo
Berkobar di hadapan penjajah inggris
Mengembalikan kekuasaan di negeri ini
Terkelat pada sang ilahi
Tuhan melambaikan hidup
Membangkit kota yang tercinta
Hanya bangsa dan tanah air di kota ibukota

Surabaya, 1 Januari 2017

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...