Tuesday, 6 February 2018

Sasaran yang Diincar

Pikiranku terselut seseorang yang akan diincar
Salah satu petaka melempuh pencurian di salah satu tempat ia bekerja
Lagi memadamkan emosi tersumbu manja
Kekuatan paling terkuat jika dielus luka
Menantang untuk berkobar

Namun jiwa tersendap
Hapuskanlah air mata bukan saatnya meredup kanak-kanak
Sepenggal pesan dilontarkan oleh guru
Lawanlah keberanianmu dengan kemandirian begitu kokoh
Lupakan masa kemaluan
Dan saatnya bergenggam dendam
Melumpuhkan sang penjajah

Surabaya, 2018

Monday, 5 February 2018

Bercuap-cuap Menampar Petugas

Semenjak orang kaya tidak menilai kebaikan
Bentuk kejahatan terserat pada wajahnya
Ia tak layak dipatut malah menampar petugas
Terdapat jeritan terbesar yang menghambat kesopanan
Sediakala ia menempuh jalur hukum

Ini terjadi pertama yang tidak menyenangkan
Memalingkan kebenaran bisa menderai seutuhnya
Dibedebah oleh sisi keutuhanmu sebagai wujud manusia
Bercuap-cuap menampar petugas yang jelas melanggar budi pekerti
Tinggal mengait sidang terhadap tabur kesedihan
Pilahkan iman pada kelengkukan pada diri
Dan masa depan

Surabaya, 2018

Teganya Guru Dianiaya Siswa Hingga Berujung Wafat

Sampang Berduka
Betapa menyayangi guru yang telah mengobarkan ilmu kepada anak didik kita
Memudarkan kekerasan yang membelenggu siswa dan guru
Ku pikir kekuasaan dibunuh oleh atasan
Ku membengkalai yang diajarkan murid adalah ahli mendidik
Malah sudah berujung nyawa pada ujung tombak
Tak habis melayang oleh waktu
Anak semuda itu berkelahi dengan guru
Moral tercuci lalu terombak pada perlawanan

Sungguh disayangkan betapa mengurui ilmu
Tak menduga ia mati karena tak tertolong
Saraf telah memadai kita
Keberadaan guru telah berduka di lingkungan sekolah
Betapa lekatnya hati guru tetap dipuja
Tersangkanya adalah siswa abadi
Yang telah memperdulikan duniawi
Sudah bersemayam di liang lahat
Tetapi mendoakan semoga berkah di sisi allah

Sampang, 2018

Malam Minggu di Alun Alun Tuban

Ku tahu betapa mendatangkan para wisatawan
Seperti menikmati sajian malam minggu di Alun-alun Tuban
Meremang siam dilenggangkan pada dening-dening cahaya putih
Mengelilingi Masjid Agung bersayap payung besar
Seperti mengarungi masjidil Haram
Memuja sunyi pada tepian keramaian

Berjalan kaki menelusuri lapangan di dalam alun-alun
Sambil bertatap dengan Balaikota bertabur istana kabupaten
Memuliakan tepian pantai pada pinggir pulau
Menikmati kopi sambil memanaskan penak selepas malam berkah
Mengiringi sunan bonang sebagai jejak terakhir sebelum kembali ke Rumah
Memulihkan diri melalui pujiaan serta doa begitu melekat di hati
Sepulang dari alun-alun akan merasakan sensasi terbaik di kabupaten Tuban yang Tercinta

Alun-Alun Tuban, 2018

Aku Penyair Muda, Bukan Anak-Anak

Semenjak beristighosah
Aku bersua dengan adik kecil
Bukannya aku penyukai cerita anak
Bapak selalu menegurku
"Kamu beristighosah atau mengobrol dengan anak kecil?"
Jawabku dalam hati yang remuk
"Bapak ini sombong dan bertingkah bodoh
Setiap ramai selalu ditegur
Tua tak berkebaikan
Malah tersulung pada anak Muda"
Aku penyair muda
Bukan penjiwa anak

Aku mahasiswa
Aku bukan petingkah kanak-kanak
Remaja berpikir tinggi
Malah bapak yang membelenggu anak muda
Ku pikir aku membakar dendam pada orang lain
"Bapak nggak punya hati!
Menghina usia muda
Niat bersikeras membodohi anak muda dengan membunuh jiwa
Yang terlampir di kota pahlawan adalah perpaduan antara ketiadaan dengan penderitaan bagaikan Chairil Anwar
Yang membunuh tubuh sejak usia muda
Penyair bukan takdir
Penyair terkekar keresahan tuhan
Dan bapak jangan seenaknya membesuk anak muda
Mendidik penuh hidup dan mati

Surabaya, 2018

Reduplah Angin Menikmati Kota Kecil

: kepada Rosy Nursita Anggraeni

Melayang di tepi udara
Betapa sejuknya menikmati sensasinya alam lestari
Di kota kecil yang mengudang kelahiran Bung Karno
Sekali merenung pasti abadi
Berziarah untuk menguras tenaga yang menakjubkan
Mengeluh pada sekian berluluh di ujung padang
Senja terbengkalai pada namamu
Mungkin pula diresapi gelora asmara
Cicipi kesegaran sambil membaca satu lembar
Berdiam pasti lelap di ufuk malam
Pulang akan membawa keindahan

Blitar, 2018

Sajak Ziarah

Ketika menginjak kaki ke tempat makam para pahlawan
Serupa menyerukan namamu ya Tuhanku
Begitu seluas dengan samudra surga di jalanmu
Seandainya bisa merenggang pada jalan terang benerang
Yang mengundang kalbu dengan sejuta kalimat yang dibacakan

Ku mengagumi anugerah Tuhan yang maha agung
Melesatkan sambil diteruskan oleh rangkaian doa
Sepanjang hayat meninggalkan kasih
Sepanjang hidup meninggalkan keteladanan
Sepanjang cinta yang mengagumimu
Selalu mengudara saat diiringi doa
Sepanjang masa tumbuhkan sejahtera
Hidupkan perdamaian penuh abadi

Tuban, 2018

Masih Meraup Duka pada Sang Pencipta

Mengugah semesta raya
Merayakan kenangan namun sudah tiada
Sempat meraup Duka yang terjadi secara mendalam
Sering melontarkan bahwa alam raya akan mengabadikan selamanya
Tidak seperti masa yang terdahulu
Tiada mencurahkan seisinya
Hanya mengiringi rindu dan kenangan
Mungkin tidak ada yang mengarungi kalbu
Siasat mencurahkan guru selain menggores rindumu
Hanya menguras tenaga yang mendidik kita
Mungkin itulah semenjak berwafat
Hingga kini tiada satu pun punya
Seolah-olah tiada berdaya mengajaikan pedomanmu
Selamat bernostalgia dari dulu hingga selamanya

Surabaya, 2018

Kekalahan adalah Awal dari Kesuksesan

Sia-sia mengarungi semesta raya
Sempat melontarkan sebuah kekaguman dan seisinya
Tak tahu bagaimana Tuhan yang rela mengabadikan kesuksesan
Sementara hanya mengisahkan duka
Bukan mencintaimu
Tetapi sederhana tetap melekat di sisimu

Surabaya, 2018

Meninggalkan Jejak Perempuan

Saat menghilang di tempat ia berada
Tidak tahu keberadaan setelah membersamai kita
Mengugah sejuta makna penuh berati
Namun hilang seketika
Seandainya berjumpa denganmu
Mengikis keluhan dipanjatkan kenangan
Jangan mengikuti jejak
Karena belum seberapa percaya
Ia adalah perempuan yang pernah hilang
Atau sebaliknya
Tidak memungkiri menatap langsung
Hingga kini belum berubah

Lamongan, 2018

Tuesday, 30 January 2018

Sajak Cinta yang Begitu Padat

Kereta merebah dendam
Kursi duduk memenggal diujung hampa
Memungkiri suatu ucapan yang terlintas di hatimu
Cuaca terbentang oleh kepadatan kata-kata
Menjajah diruyup sebuah kegejolakan
Seusai memberitakan bahwa memangkatkan dirimu
Adalah menarik pembesutan lalu dikutuk
Menimbang oleh kepanjatan dan dikelorakan pada kesempitan
Sudah tak layak lagi menyembah hati
Memilah oleh keridhoanmu
Lalu menitipkan pesan bahwa selamat jalan kau.

Surabaya, 2018

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...