Monday, 12 February 2018

Gemuruh Rawan Mengaum Bulan Purnama

Gemuruh memanjatkan daerah permukiman
Hutan merembah lalu disuguhkan malam kegelapan
Serupa hantu yang memanjatkan semesta
Seraya menorehmu selalu ditingkas semata
Rawan mengaum dilepas oleh kerumunan serigala
Ku yakini betapa menyesahkan berbagai sudut ke sudut
Dipelana seraya berbedah oleh kalanganmu
Nantinya akan memecahkan suasana
Roh akan melayangmu selalu
Seakan-akan kegeraman hampir dideraskan hujan
Seolah-olah mematikanmu selamanya

Surabaya, 2018

Berhempas Siang Melelahkan Bakda Dzuhur

Mengeluh panjang selembur kerja
Betapa memikat mengusik kalbu
Sampai ku mungkiri hempas badanmu
Memanjatkan sela-sela waktu
Penjamkan sebentar untuk bekerja
Tak bisa berbuat semaumu
Jangan menyangka rela diurung pati
Tiada satupun yang mengelupas senja
Jangan menunggu yang tepat
Sekadar jawaban pasti tersendat bersamamu
Hingga mengakhiri senja menjelang maghrib
Engkau pulang ke rumah

Surabaya, 2018

Berkerumun di Stadium

Berdiam di tepi stadiun saat menandingkan antara seseorang
Bermain bola menyundul sampai ke pintu gawang
Berlari merebut bola melintas lawan
Bersundul semau mungkin

Baru disegarkan sambil bernyanyikan lagu perjuangan
Seakan-akan memangkatkan kejuaraan
Pergi segala memburu angan
Hingga mematikan seragan

Bola masuk garis dianggap offside malah mengoyah suara rembang
Kerumun di stadium merasa kejayaan sementara
Hingga memetik kemenangan atas anugerah indonesia

Surabaya, 2018

Menikmati Keramaian Dalam Kereta Api

Tidak ada tempat duduk
Layaknya berdiri di hadapan penumpang
Menikmati suasana buruk
Mengemuruh suara kegaduhan
Anak menangis serentak kesakitan
Tertidur di dalam kereta karena sekian panjang perjalanan

Sebagian aku membaca buku di tengah berdiri berjam-jam
Berselayang diuluh senja sambil bersenggang jalan
Tiada rupanya merongga lima belas menit
Seraya berkata "Ramai begini menikmati perjalanan di tengah berdiri"
Entah ujian mandiri tanpa merombak teguran
Turun di stasiun berasa lega

Surabaya, 8 Februari 2018

Mengudarakan Realitas Milenial

Diantara mengaduh pada tahun politik
Bila mana yang merangkap setiap jabatan
Jika mengoyangkan kepala untuk menentukan kemenangan lima tahun
Siapa yang menggantikan generasi kita
Indonesia mengudara sabang sampai merauke

Mendepankan junjung kebangsaan
Mengelorakan asmara yang dipenggal
Disuguhkan sebuah pepatah
Jangan dihinggap hati secara terpisah
Sambungkan kembali masa yang meraup semboyan hidup
Menguras tenaga dipenggam masa lalu
Sampai berjumpa
Sia sia bersua lagi di kemudian hari
Milenial milik zaman sekarang

SURABAYA, 2018

Mengisahkan Kasih di Ujung Katedral

Mengulur kasih dalam dekapan tuhan
Mendoakan bagi para masyarakat ia kerap menyakiti perbuatan
Seolah-olah menjumpai segalanya
Dipadukan antara keriuhan dengan memeluk sesembahan tuhan
Masihkah dijerumuskan dalam perjanjian besar
Bahwa tuhan tidak akan mengampuni dosa bila melakukan jerat yang sekian berkala

Surabaya, 2018

Serapan Pantai

Mengelombang sepanjang hari
Sambil reduplah senja digeluyup pantai
Hanya diiringi sebagai pedomanmu
Hadir ditengah kursi diserapkan sederai suara
Senyap memukat sebuah serpihan kalimat

Mengiris pangkuan pada lembaran
Berisi tentang perpisahan melalui bahasa Madura
Siapa lagi yang menerjemahkan bacaan
Suatu saat menggantikan sementara
Dan mengajaibkan suatu goyangan kalbu
Memesonakan sesapuan dikejutkan oleh pati
Hanya saja bukan mengelorakan semesta raya
Malam mengulungkan keasmaraan diduduk oleh para kencang
Sampai jumpa dikemudian hari

Surabaya, 2018

Mengutip Berita tentang Pembuangan Bayi di Suatu Tempat Terlarang

Mengejutkan penemuan bayi yang dibuang oleh seseorang tanpa diketahui
Akibat tidak sanggup merawat dan mengisihkan kenangan
Sebentar mengasuh balita kecil sangat unyu-unyu malah berujung pergi
Memeras keganasan sembari meresat kepanjaan oleh hati dicampuraduk kesengsaraan
Sepertinya mengakhiri nasibku
Dan akan bersiang padang menjumpai di kemudian hari

Surabaya, 2018

Bayi Tidak bisa Bicara, hanya Melontarkan Bahasa Jeritan

Maklum bayi tidak bisa berbicara
Hanya melontarkan bahasa jeritan bukan memadukan Jerman
Sekadar belajar mengasumsi kata yang dipijaki olehmu
Menghadirkan paduan disuguhkan susu
Tidak mungkiri sebatas percaya itu membelakangi fakta

Seorang penduduk merawat bayi tak pacuh dikasihi
Malah sudah tergeletak di tempat lain lalu entah kemana
Pelaku juga mengakhiri nasibmu sambil menjemput jeruji
Memanaskan sengsara dilantunkan kata puruk
Kepedihan selalu mengutik malapetaka

Surabaya, 2018

Tuesday, 6 February 2018

Pujangga Perempuan Di Era Milenial

Perempuan masa kini
Serasa mengubah gaya hidup yang meraih kesenangan
Pujangga perempuan meronggak estafet pena
Demi menuliskan sebuah goresan tinta
Dihasilkan sebuah kekaguman rahasia
Cinta tak kunjung padam

Merendam malam
Melusuh kelam
Milenilal menyebut masa baru
Melahirkan teknologi
Mengalirkan silam
Mengusap rindu
Dan tiada lupa segala cobaan diderah dilema
Di persembahkan untuk sajak pujangga
Merangkul impian diarungi bahagia di sisimu

Surabaya, 2018

Meninggalkan Perantau

: untuk Ayu Wahyuniar

Mengusik kerinduan
Meninggalkan perjumpaan di masa yang renggang berjalan
Kini saatnya untuk berjumpa kembali
Di masa yang akan datang
Telah belajar dari pakar sastra
Mengarang bukan kemalasan
Mengarang sekadar dikuraskan pelangi dan imajinasi tujuh warna
Didengarkan oleh awan kalbumu

Surabaya, 2018

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...