Friday, 12 February 2016

Langit Dan Bumi

Langit dan Bumi
Lihatlah alam kita menyerupai biru
Serupa mengelilingi luas yang indah
Bagaikan pelangi menghampiri samudra surga
Awan menemani hari
Semenjak engkau cerahkan pagi dengan sejuk

Fajar telah terbit
Memutar jam tak pernah berhenti
Alangkah kebaikan membawa rahmat bagi alam semesta
Memutar planet tak terhitung
Waktu berjalan maju tanpa mundur
Bumi menemani bintang sejuta makna

Matahari telah menerangkan hari
Lari mengelilingi angkasa seperti bintang membentuk sejuta garis
Berisi air mengalir ke seluruh alam
Bagaikan lingkungan kita
Menumbuhkan pohon yang menghirup udara bebas

Sunday, 7 February 2016

Hujan Merendam Rasa Galau

Hujan Merendam Rasa Galau
Hujan telah menetes
Mungkin tak bisa beberapa lama air telah menetes
Urusan telah menunggu hingga melihat suasana seperti ini
Nggak bakal bisa terangi langit begitu saja
Memuliakan hujan akan membawa Rahmat
Abaikan langit telah menutupinya

Wajah sudah ku nantikan
Mungkin sampai kapan hujan telah berhenti
Ingatlah kembali setelah keluar dari suasana ini
Tak cukup untuk melakukan apa saja engkau mau
Bagaikan wajah meredam rasa malu
Do’akan semoga hujan bisa meringankan beban kami

Tidak sulit menunggu dalam suatu apapun
Kemanakah engkau pulang
Orang-orang telah menanti-Mu
Hilangkan rasa galau dalam hati
Membuka persahabatan sebagai penunggu terang dari hujan
Melewati air jika fisik semakin kuat

Hingga merindukan dari segala kendala ringan

Pertama kali jatuh sakit masa SMA

Saat Pengajian Jum'at pagi biasanya mengisi waktu sebelum waktu sekolah. Akhir-akhir ini tubuhku terasa nggak enak badan. Biasanya ketika ngaji aku tidur lelap walau bisa mendengarkan kajian itu. Menurut para ahli kan ilmu yang peroleh bisa difahami dan diamalkan. Tidak semua ilmu yang kita suka melainkan minat bisa di pilih tergantung pemahaman sendiri. Beberapa menit kemundian aku jadi kurang enak badan apalagi berjalan menuju toilet untuk menyeimbangkan sistem tubuh yang terkena masalah penyakit. Kembali dalam keadaan biasa lalu berdoa agar bisa menjalankan sehari dengan penuh kemudahan. Lebih aneh berdo'a bagaikan tubuh sudah berkeringat. Hati-hati kalo masjid nggak ada AC-nya.
 Setelah pengajian selesai ia mengambil makanan yang disediakan oleh pihak takmir masjid. Aku kembali ke rumah dengan lancar. Saat perjalanan suasana warga hampir seperti biasanya sambil bersapa dengan jamaah pengajian jum'at pagi. Seru dan segar banget menemani hari. Hanya saja hendaklah sekolah cuman masalahnya badannya terlalu kurang enak. Ia mendadak buang air besar ke kamar mandi. Soal masuk sekolah sepertinya belum bisa melakukan akan tetapi apabila engkau masuk sekolah tubuhnya terasa nggak enak maka ia bereaksi total sakit tetap bermunculan. Kemarin beberapa siswa yang jatuh sakit sebab ruangan dingin berasal dari AC. Ibu menyuruhku bersekolah tetapi ia memilih untuk sakit dibandingkan masuk dalam fisik masih kuat.
 Hari ini aku belum bisa melanjutkan sekolah karena jatuh sakit. Point penting harus perlu lakukan dengan hubungi pihak sekolah dan siswa sekelas punya sosial media. Mengambil handphone lalu mengotak atik SMS kepada teman maupun pihak yang bersangkutan biar bisa menerima kesepakatan. Beberapa menit dan jam kemundian baru SMS dan balasan sudah terima. Setelah mengirimkan pesan dari berbagai sosial media tunggu kunjungan ke puskesmas maupun rumah sakit. Sambil menunggu pergi Ibu sempat mengajar di PAUD dengan mengenakan seragam hijau dan tranning nggak tahu warnanya apa. Jelas pasti ia menunggu jika waktu udah usai. Aku membiasakan membaca buku fiksi daripada nonton TV. Ia kalau tayangan sedikit mainstream akan cenderung gila.
 Sudah sejam menunggu baru memeriksa badan ke Puskesmas. Sampai di tempat temui dokter lalu di periksa badan tersebut. Sakit yang ia derita adalah diare dan juga telinga. Periksa baru menemukan kelemahannya. Ia di anjurkan untuk mengatasi penyakit bila bermasalah belum selesai. Mengambil obat terus memberi surat rujukan ke rumah sakit langsung pergi meski menyelesaikan urusan kecil terlebih dahulu. Selesaikan secara ringan akhirnya baru mengunjungi ke Rumah Sakit. Di tempat ini sedikit rame apalagi kebanyakan usia tua sedang mengatasi penyakit baik ringan maupun berat. Aku dan Ibu pergi menemui register pasien. Untung saja membawa dokumen pasien dan seterusnya. Mampir ke loket pendaftaran ujung-ujungnya tutup maka ia terpaksa kembali ke rumah untuk menunggu waktu yang tepat. Kembali ke jalan keadaan sia-sia banget. Mau atau tidak akan menunggu waktu yang telah sepakat hanya mengembalikan masalah tersebut. Jalankan hari lalu bagaimana reaksi tergantung aksi anda. Semoga bisa teratasi Sakit terhadap manusia tergantung cara mengatasi secara medis atau non medis. Apabila nggak mempan segera ke dokter biar cepat selesai.

Sudut Pandang Vina


Sudut Pandang Vina

Ketika SD Aku berkenalan dengan Vina. Cara terlalu gampang hanya berkenalan sambil berkata basa-basi. Terima belas senyuman membuat aku terlalu bahagia. Sepulang ngaji aku terasa pede melihat Vina. Sosok Vina dari kelas 1 SD awalnya dari beberapa tingkah terlalu aneh banget. Misalnya Vina menguasai huruf dan hitungan yang ia suka. Sedangkan aku selalu mengikuti pandangannya.

            Begitu arah mengikuti orang ada salah seorang yang mengancamku. Ternyata di pandangan Vina merasa geli terhadap Ivan. Vina berfikir Seandainya Ivan ini seperti apa ya? Apabila ia justru tujuan untuk berteman. Bagaimana caranya untuk mengembalikan yang paling lurus. Jangan sampai menghancurkan nasib saya. Muncul Sosok aku di belakang Vina.

            “Hai Vina” Sapa Vina menerima senyuman dengan manis.

            “Hai Ivan, Kamu lagi ngapain di sini?” Jawab membalas senyuman dari seseorang.

            “Nggak papa sih cuman ikut-ikutan.”

            “Gitu ya Vina merasa kebaikan sama kamu.”

            “Benar ta? Saya mengikuti demi persahabatan kita.”

            “Ya sudah Vina kembali ke Kelas dulu ya.”

            “Iya hati-hati ya.”

            Bel telah berbunyi maka Istirahat sudah berakhir. Aku melanjutkan belajar bersama dengan kawan-kawan lainnya. Pelajaran yang ia sukai adalah Matematika. Bab ini membahas tentang pecahan. Walaupun menguasai matematika begitu suka tak pernah lupakan menemani rumus untuk mengasah otakku. Sedangkan Vina pelajaran yang ia suka adalah Bahasa Indonesia. Setiap hari Vina mempelajari tentang Cerita pendek. Agak lumayan Vina bercakap setiap hari dengan Shofiana.

            Sepulang sekolah begitu semangat dengan sahabatnya sehingga merenggut kecerdasan demi esok. Vina pulang sekolah bersama dengan Mama. Meskipun tinggal di rumah yang begitu kecil tetap meraih tekadnya demi mengambil prestasi yang kita raihkan.

            Ngaji Sore biasanya sekelasku bersama dengan Vina. Bedanya Di Sekolah menduduki bangku di kelas semakin berbeda. Pak Achmad salah satu guru kita akan mempelajari tentang bacaan tajwid dengan baik dan benar. Ternyata ribut suasana apalagi dengan omongan nggak jelas banget sampai Pak Achmad memberikan hukuman kecil bagi setiap santri sedang rebut di Kelas. Ia hanya diam saja daripada gaya kurang jelas.

            Sudah menunjukkan jam 5 Sore akhirnya aku pulang ke rumah dengan selamat walaupun bertemu dengan Robby. Aku heran bertemu dengan Robby karena ia pernah pertentangan pada jam istrihat apalagi sampai cara kekerasan secara radikal. Pertemuan ini untuk mengembalikan egoisme kepada Vina.

            “Ivan!” Sapa Ivan muka terlalu tenggang

            “Kau Robby, Bukan kah kau bertemu ketika pertentangan saat jam istirahat. Mau apa di sini?” Jawab sedikit emosi terlalu kecil

            “Robby menyarankan buat kamu?”

            “Apa itu?” Ujarku sedikit bingung

            “Apabila engkau membahagiakan Vina. Lebih luasnya temukan titik kelemahan terhadap temanmu. Sedikit demi sedikit kelemahanmu akan semakin tinggi egoismu itu.”

            “Maksudmu gimana?”

            “Ikuti cara emosi sehingga kau juga mendapatkan titik temu tersebut. Jangan lupa ikuti apa yang harus kau perbuat.”

            “Tapi Rob….”

            “Sampai bertemu lagi Ivan.” Gumam Robby meninggalkan Ivan dari tempat Tersebut.

Aku kurang mengerti mengapa mendeteksi titik kelemahan emosi terhadap Vina. Padahal ketika hari berikutnya khawatirnya aku sedikit kecewa dalam sudut pandang tersebut. Bagaimana menghargai emosi tetap mempertahankan dalam menghadapi situasi seperti ini. Lebih baik pulang ke rumah tanpa menolah-noleh orang di sekitarnya. Orang tua sedikit membingungkan dengan Vina.

Mama terlalu menerima rasa simpati seperti Ivan orangnya gagah banget serta menjadi seorang teladan. Rencananya untuk mendeteksi seberapa jauhnya emosi terhadap Ivan. Belakangan ini Ivan tingkat emosi terlalu berlebihan. Oleh karena itu Vina fokus meraih nilai daripada aku sendiri

*****

Aku bersiap menuju ke sekolah untuk menuntut ilmu. Ketika perjalanan cuaca hari ini makin memburuk membuatku bersemangat di pagi hari yang cerah ini. Pelajaran hari ini adalah Bahasa Indonesia. Minim banget pembahasan tersebut sekiranya mencapai wawasan tingkat sedang.

            Aku menunggu di tempat duduk dekat kelasnya Vina menyampaikan kata-kata terakhir. Sebelum berbicara Vina sempat bereaksi kepada teman sebaya tersebut. Ia berfikir akhir-akhir ini Ivan sedikit curiga terhadap emosi tersebut. Shofiana mengatakan bahwa kalau kamu bertemu dengan Ivan sekaligus perpisahan terakhir. Syaratnya cuman satu kau nggak bisa melupakan saat pergi dari tempat yang kita injak selama ini.

            Vina dan Aku merupakan pertemuan terakhir dalam persahabatan di Sekolah SD yang tercinta. Salah satu mengesankan saat berteman yaitu terima kasih selama engkau menemani mulai dari belajar bareng, bersama-sama di sana hingga ngobrol setiap saat. Tak lama kemundian lebih memilih untuk tidak berteman lagi di lain waktu.

            “Ivan!” Sapa Ivan dalam wajah mengumam

            “Ya Vina, ada apa?” Jawab sambil beberapa pertanyaan dari aku.

            “Ini kita hari terakhir dalam persahabatan ini.” Ujar Vina wajah mengangguk ke bawah sambil mengiringi air mata.

            “Maksudnya?”

            “Kita artinya nggak usah berteman lagi sementara lagi Ivan sudah menempuh SMP.”

            “Tidak Vina jangan ngomong begitu kita masih…..”

            “Masih apa. Ivan dengarkan aku selama ini kita sudah waktu telah berlalu tapi di lain waktu kita tidak bisa berteman lagi.”

            “Waktu masih ada dalam hidupmu jangan pernah melupakan sia-sia kita.”

            “Maaf Ivan kita berpisah sampai di sini.”

            Kebaikan sudah terbelah maka kehidupan akan sedikit berbeda dengan lainnya. Keadaan seperti ini mengundang sedih tanpa berteman dengan Vina. Air mata masih menetes air terjun gara-gara tidak punya kesempatan untuk mencari sahabat baru. Tak lama lagi Aku melanjutkan kehidupan tanpa melirik Vina lagi. Di kelas tak tahan tangisan habis drama selama beberapa menit saja. Teman-teman ikut mengungkapkan sedihnya habis terpisah jauh dari sahabat itu.

            Pandangan jauh terasa tidak punya waktu untuk menemani maka teman tersebut banyak berusaha hanya mengembalikan perasaan teman. Pelajaran telah berlanjut fokus ke pelajaran.

            Sepulang sekolah tak tahan melihat perasaan terakhir begitu kurang menyenangkan hingga menurunkan emosi temannya. Kini ia telah berjalan yang beda melupakan interaksi satu sama lain. Apalagi Vina juga begitu. Ia berusaha untuk mengembalikan keadaan seperti ini. Banyak hal yang harus menghindar walaupun hujan telah turun menyelimuti kota.

            Malam hari telah larut. Belum tidur sedangkan aku belum pulih habis melakukan drama terakhir. Belum sampai menemukan titik kelemahan tersebut. Ingat kata-kata yang di ucapkan Robby Apabila engkau membahagiakan Vina. Lebih luasnya temukan titik kelemahan terhadap temanmu. Sedikit demi sedikit kelemahanmu akan semakin tinggi egoismu itu. Ikuti cara emosi sehingga kau juga mendapatkan titik temu tersebut. Jangan lupa ikuti apa yang harus kau perbuat. Sebelum memasuki jalur baru lebih baiknya melatih soal matematika menjelang ujian nasional.

            Semenjak kelas 6 SD pelajaran semakin siap dalam persiapan ujian nasional. Kini Aku duduk bangku bersama dengan teman regular berbeda duduk bangku khusus anak berkebutuhan khusus. Pelajaran semakin mengikuti dengan baik apalagi mengerjakan soal. Seolah-olah tingkat kesulitan terlalu sulit walau pelajaran sudah di pelajari dari awal hingga akhir.

            Ujung-ujungnya Suasana Vina lebih berbeda dengan Aku. Bahkan pelajaran yang ia mempelajari semakin gamblang. Prestasi yang telah meraih semakin banyak supaya ekonomi keluarga Vina semakin berjuang demi melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

*****

Semenjak masuk SMA bersama dengan teman sebaya lainnya. Tak terasa ingin menuntut ilmu menekuni jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial yang terbelah menjadi beberapa pelajaran peminatan. Ketika mengikuti pelajaran tetap menyerap ilmu yang telah di pelajari. Bermain bersama sambil melakukan ekstrakurikuler pingin banget belajar keagamaan secara bertahap.

            Sedangkan Vina kini menempuh pendidikan di SMP Negeri Kediri. Tempat tinggal sekarang pindah setelah betah beberapa tahun di Surabaya. Tak sejauh pun perasaan sudah berbeda dibandingkan tingkah laku SD. Belum tahu beberapa lama betah di Kediri. Vina lahir ke Kediri walaupun ekonomi keluarga telah berjalan hingga tidak tahu kapan berjalan-jalan ke Surabaya.

            Aku sedang les pelajaran tiba-tiba bertemu dengan Shofiana salah satu teman akrab Vina. Ia justru kagum banget persahabatan bagaikan pelangi mengiringi senyuman manisnya. Akan tetapi ada beberapa pertanyaan masih di ingat.

            “Shofiana!” Sapa Shofiana terlalu santai.

            “Ya Mas Ivan.” Jawab sapa Shofiana sedikit biasa.

            “Kamu ingat Vina.”

            “Ya ingat. Kenapa emang? Kamu pasti kangen sama pacarnya.”

            “Nggak kok.”

            “Bohong ya.”

            “Nggak basa-basi deh. Ya sudah kabari Vina kalau kamu ketemu.”

            “Oke mas.”

            Tak terasa kehidupan telah berbeda. Masih ada konflik di balik persahabatan yang belum terpecahkan. Aku masih menemukan ingatan pada masa kecil. Tidak sampai ke beberapa fase pertemuan tersebut. Mungkin Vina apakah ia bisa kembali setelah belum bisa reda habis konflik persahabatan masih jadi tanda tanya. Jadi Aku ingin mengejar ingatan pada persahabatan itu.



Surabaya, 6 Februari 2016

Friday, 29 January 2016

Selamat Datang Siswa Baru

Selamat Datang Siswa Baru
Hari ini ada kejutan dari Sebelas IIS 1. Yaitu Siswa baru yang berasal dari SMAN 4 Surabaya. Frisca Desantya Putri. Anak ini rumahnya di Sidoarjo. Aku akan menggambarkan oleh Frisca walaupun interaksi masih belum berani sama sekali. Frisca ini berawal dari sekolah di SMA Negeri 4 dengan tujuan untuk menggali potensi di sana. Di samping itu Ia berangkat dari rumah ke sekolah naik antar jemput bersama orang tua. Memang tempuh perjalanan selama beberapa jam dan menit saja agar bisa sampai ke sekolah dengan selamat. Alasan yang penting bagi Frisca, Pertama Anak perempuan sholeha selalu meneguh kepada guru dan sahabat. Kedua memperkokoh ilmu bermanfaat dan membawa pengetahuan hingga menjunjung ke Penguruan Tinggi atau yang lainnya. Terakhir alasan paling kurang tercapai yaitu Sampai saat ini masih enggan mencari kesulitan selama satu setengah tahun bahwa Frisca sering mengalami sakit.

            Karena Frisca nggak sanggup menjalani sekolah di SMAN 4 akhirnya selama ini orang tua bisa mengizinkan diri pindah ke SMA Negeri 10 Surabaya. Pak Suyono setuju dengan menyambut Frisca untuk mengucapkan Selamat Datang di Sekolah berbasis Inklusif SMAN 10 Surabaya. Menurut beliau SMAN 10 sebagai menggapai saudara dan keluarga terhadap kelas masing-masing. SMAN 10 Surabaya bisa mencapai standar dalam persaingan diri terhadap kompetisi. Setelah itu SMA bisa menjadikan Tetangga dan Saudara hanya mencoba mengenal sumber pengetahuan yang berbeda dibandingkan SMAN 4 sebagai sekolah Literasi. Frisca pertama kali belajar di SMAN 10 Surabaya merasakan masih diam dan mencoba interaksi baru. Lebih galak lagi tempat duduk yang ia sediakan selalu sulit banget. Jika teman-teman duduk bersama Adam Tresna merasa ia mau tapi teman-teman di minta Jangan Duduk di Situ karena orangnya makin jijik banget. Ia menempati di depan dekat dengan meja guru. Kemundian Frisca sudah mendekatkan kepada Guru dan Sahabat kita. Yah merasa Alhamdulillah juga apabila ada mengisi kekosongan di SMA yang penuh bahagia. Itulah Frisca migrasi ke SMAN berbasis Inklusif. Mulailah diri dengan mengisi ilmu dan teknologi hingga memisah antar waktu dan tempat saat menuju ke jalan yang terlalu berbeda.


 Surabaya, 20 Januari 2016

Saturday, 16 January 2016

Perjuangan tanpa Tanda Jasa

Perjuangan tanpa Tanda Jasa
M Ivan Aulia Rokhman
Bermula kecil belajar dari hal yang ku lakukan
Menemani Ibu telah membesarkan kita
Kini memasuki dari sekian lama untuk menyelamatkan tujuan
Tanpa merantau pandangan terlalu buruk
Sesungguhnya pandangan yang terburuk akan terjerumus oleh bawah sadar
Sampaikan pesan akan menyemangati diri sendiri

Perjuangan mengisi bekerja keras demi menggapai kebutuhan
Tidak hanya setiap hari dengan bekerja hingga semalam suntuk
Melainkan Bekerja mendapatkan apa yang telah dikerjakan
Tiada malas untuk mencapai cita-cita
Mengejar prestasi semenjak dari sejak dini

Bagaimana mengenang tokoh sesudah berjuang demi nusa dan bangsa
Melindungi hanya sebatas ancaman kita
Mungkin aku harus apa yang kita melihat
Tidak bisa engkau mencari jalan bagi orang yang bersengsara
Jangan melarikan masalah yang belum terselesaikan
Mengenggamkan tangan terhadap kerjasama
Bersatu untuk membangun tekad kita

SURABAYA, 15 January 2016

Terbelah Tanpa Pesan

Terbelah Tanpa Pesan
M Ivan Aulia Rokhman
Langit menyimpan cerita dalam berpisah
Sahabat mengenggam terhadap kesenangan disaat mengisi waktu
Rindu masih membekas dalam hati
Tak bisa menunggu hingga mengungkapkan melalu pesan pribadi
Walaupun melihat semua apa yang harus ku perbuat

Hujan menetes kesedihan demi mengenang sahabat
Sudah bertemu dalam masa waktu menyenangkan
Kini suasana di jalan merasa berbeda tidak seperti kenangan lama
Bagaimana lagi kita bisa melangkah kembali
Seandainya luka mengatasi dengan obrolan santai
Untuk membuka catatan lama setelah menulis sekian lama

Bumi mengelilingi pusat surya
Bulan mengiringi kisah tak pernah selesaikan
Hingga tidak bisa bertemu dengan menyampaikan pesan terakhir
Sebelum mengucapkan selamat jalan untuk mereka
Serta menyatu abaikan konflik telah merendam
Pesan terakhir bagaikan harapan terakhir
 sebelum menghembuskan nafas terakhir kita
SURABAYA, 15 Desember 2016

Konflik terhadap Si “Pembohong Besar”

Konflik terhadap Si “Pembohong Besar”
Semenjak kelas 5 SD membuat suasana pelajaran di sekolah makin tenang. Di balik konflik tersebut sering bermunculan. Saya pasti kurang tahu mengapa Fiqih ini sebagai “Pembohong besar.” Soalnya sejak dari kelas 4 selalu merengek ketangisan di tengah pelajaran sampai Bu Guru marah. Bingungnya Fiqih itu mengelu terhadap perkembangan belajar di sekolah bahkan Mama Fiqi pun kurang mendidik di rumah. Sedangkan siswa lainnya memandang fiqih secara terus-menerus. Dan hingga lingkungan ini banyak sekali siswa SD yang selalu rata-rata kebanyakan bermain dari pada belajar atau sebagainya. Saya pernah mengalami seperti itu.
            Mainan kita mainkan justru menimbulkan membuang waktu sampai sholat pun nggak berjalan. Namanya anak mau belajar sholat apalagi usia lebih dari 5 tahun sudah bisa sholat. Fiqih melirikku dengan sengaja. Omongan tak salah lagi sering bertenggang. Serasa teman-teman paling benci dengan perkataan secara berlebihan. Fiqih hampir bingung dengan teman-teman sendiri
            “Wahai bangsaku bagaimana engkau rela berkorban dan jasa demi kemanusiaan dan kedamaian.” Sahut Fiqi sambil pidato di depan kelas.
            “Hey kau, apa-apa ini jangan berpidato emangnya ini ruang public.”
            “Emangnya kenapa teman-teman apa selalu iri.”
            “Ini sekolah bukan untuk tempat berbincang-bincang.”
            “Apa yang kau lakukan?”
            “Kaulah tukang “Pembohong besar”
            Mulai sindir dengan habis-habisan. Tak bisa mengatasi dari hari perhari. Seringkali Aku mengecewakan terhadap perilaku tersebut. Hal tidak mungkin pasti bagaimana ia bisa kembali seperti yang dulu sayang tidak punya solusi lain. Coba aku mampir ke Ruang Guru untuk lebih lanjut tentang Fiqih sebagai “Pembohong Besar”. Ke sana lebih pelan-pelan tetapi Vina menatapku biasa saja.
            “Mas Ivan.” Sapa Vina
            “Iya Vina.” Jawabku penuh hati yang tenang
            “Lagi Ngapain?”
            “Ini mau mampir untuk ngomong ke Guru seputar masalah terhadap anak bandel.”
            “Yuk ke masjid?”
            “Untuk apa”
            “Kita melaksanakan sholat dzhuhur biar nggak ketinggalan.”
            “Oke tak jalan.” Sahutku mengikuti petunjuk dari Vina.
            Agar aktivitas nggak jenuh mendingan melaksanakan Sholat Dzuhur di Masjid supaya nggak ketinggalan. Di Masjid aku mengampuni oleh Allah dengan Do’a. saat hendak berdo’a Vina pasti lihat ternyata Ivan terlalu kasihan dengan Fiqih.
            “Ivan!”
            “Ya Vina”
            “Kamu kok sedih sih. Ceritain dong masalah apa yang menurut kamu saat ini?” ia menawarkan untuk bercerita entah curhatan hati kepada seseorang.
            “Begini Vina semenjak kelas 4 sudah berteman dengan Fiqih. Ia laki-laki yang kuat. Tangguh dan tidak pernah selalu mendurhakai orang tua. Terus mengelilingi samudera dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pasti mendapatkan pemahaman yang luas. Tetapi ia hilang dalam pikiran Fiqih. Teman-teman sebagian besar menyindir Fiqih akibatnya ia selalu berkeliaran di berbagai kelas hingga ruang lain. Tentunya Fiqih selalu bermain dengan aku. Seolah-olah gambaran itu hanya sebatas bulir kesedihan.” Gumam Aku sambil bercerita tentang Fiqih menemani wajah penuh kesedihan.
            “Ivan, Aku tahu gambaran Fiqih sudah biasa. Bagaimana lagi lingkungan sekolah sering mendapat kritikan dari teman. Vina juga begitu, ketika lomba Vina selalu grogi pas nampil. Alhamdulillah Vina dapat juara 2 Lomba Tilawatil Qur’an setingkat SD.” Ujar Vina mengungkapkan jawaban dari Ivan.
            “Emang bisa? Kamu gimana kok bisa menang?”
            “Belajar dan berlatih saja. nanti nggak bisa akan mempengaruhi malas dari kamu. Jangan berhenti sampai di sini. Nanti semenjak SMP pasti menemukan potensi dan Vina berpesan penting yaitu mencari kelemahan terhadap seseorang. Semakin akan mencari maka kelemahanmu akan ketemu. Caranya dengan perlu menyerang dalam titik tersebut. Faham nggak?”
            “Yakin Aku ingin mencari titik kelemahan itu?”
            “Insya Allah aku pasti bisa. Percayalah sama Vina.”
            “Baiklah akan ku coba.”
            “Oke aku pergi ke kelas dulu.”
            “Ya makasih ya Vin.”
            “Ya sama-sama Van”
            Curhat terlalu panjang tetapi tetap bisa mencari kelemahan bagi Fiqih. Semangat dan Tekad telah mulai. Fiqih mengacaukan teman dengan sindir terus-menerus. Teman-teman lainnya terlalu takut. Sepertinya Aku mulai berlari keruangan sebab ada bermasalahan dengan teman-temannya. Fiqih nggak bisa berhenti nakal tersebut. Aku masuk secara paksa.
            “Kau!”
            “Hey Ivan, apa kau ingin melawan denganku!”
            “Fiqih hentikan semua ini sampai teman-temanmu takut terhadap perilakumu.”
            “Aku nggak peduli ucapanmu yang bikin sakit mual menempel di lantai yang kotor ini. Ha-ha-ha”
            “Fiqih kau keterlaluan!”
            “Ayo sini panda yang manis.”
            “Aku tak takut Pembohong Besar”
            Aku dan Fiqi kini bertentang dengan cara kekerasan. Tanganku mulai menggenggam seperti pembalasan telah mulai. Fiqih sendiri mulai bereaksi. Aku belari cepat langsung menonjol wajah secara keras. Luka telah mengeluarkan ambisinya. Kerah baju Fiqi mengenggamku lalu menatap wajah ke wajah dalam berbaring. Serasa mengambil tindakannya
            “Fiqi!”
            “Ya anak rakus.”
            “Selama kau sudah berbeda.”
            “Mau bagaimana lagi aku sudah punya tujuan yang berbeda dibandingkan kamu pembunuh kejam.”
            “aku tidak peduli dengan perkatanmu yang menjijikan terus menghina apa yang engkau perlakukan.”
            “Oh ya bagaimana nasib kau anak rakus.” Sindir Fiqih dengan radikal.

            Konflik pembohong besar denganku menjadi sasaran incaran kita. Suasana semakin memburuk. Aku tidak punya pilihan untuk mengatasi anak Pembohong besar. Fiqih sekarang sudah berbeda tanpa memedulikan aku diri sendiri. Pantaskah bisa mengatasi dengan perang face to face dalam bentuk yang berbeda. Aku dan Fiqi kini berakhir musuh dalam persahabatan. Pola fikir berbeda dari orang lain. Konflik masih berlanjut…..

Wednesday, 30 September 2015

Perjuangan Untung Suropati

Sabtu, 27 Juli 2013

PERJUANGAN UNTUNG SUROPATI

OLEH BELLA JENISKA/SI 3            Untung Suropati semula bernama Untung, menurut ceritanya ia berasal dari Bali yang lahir pada tahun 1660 yang kemudian di beli sebagai budak oleh seorang pedagang Belanda. Karena menjalin hubungan cinta dengan putri tuannya Untung akhirnya masuk penjara. Pada suatu saat ia berhasil dengan teman-temannya mendobrak pintu penjara dan ia memimpin perampasan dan pereampokan terhadap orang-orang Belanda. Upaya VOC untuk menangkap Untung dan teman-temannya gagal. Pada waktu itu, Voc sedang terlibat dalam perang Banten. Dengan siasat liciknya VOC kemudian berhasil menarik kelompok Untung ke pihaknya dan digunakan untuk menangkap Pangeran Purbaya, putra Sultan Agung Tirtayasa yang meloloskan diri. Ketika upaya untuk membawa Pangeran Purbaya ke Batavia hampir berhasil, Untung mendapat penghinaan dan ia memutuskan untuk melanjutkan perlawanan dengan kompeni. Kembali ia melancarkan perang griliya melawan kompeni di wilayah Periangan. Ketika ia melanjutkan perjalanan ke Cirebon, ia terlibat dalam perkelahian dengan seorang Pangeran Cirebon bernama Surapati. Untung diajukan untuk diadili oleh Sultan Cirebon. Namun saat ia ingin di adili, Untung ternyata dapat melepaskan diri dari tuduhan bahwa ia telah ebrani membangkang terhadap kekuasaan Sultan, bahkan Suropati dipersalahkan. Pangeran Suropati dihukum mati dan Untung dianugerahi nama baru dengan nama Untung Suropati. Selanjutnya Untung Suropati melanjutkan perjuangannya diwilayah Mataram.            Pada waktu itu yang menjadi Sunan di Mataram adalah Amangkurat II yang berhati leamh ini kemudian bermaksud merangkul pihak Untung Suropati untuk menentang kompeni. Sifat Sultan yang dahulunya pernah menjerumuskan Trunojoyo muncul kembali, yaitu sifat ragu-ragu. Untung menyadari sifat Sunan yang demikian itu. Setelah ia berhasil membunuh utusan kompeni ke Mataram yang bertugas menangkap Untung yaitu Kapiten Tack dengan anak buahnya, sealnjutnya Untung Surapati menyingkir ke Jawa Timur.            Untung Surapati berhasil membangun pesat perlawanan terhadap VOC di Pasuruan. Dari sini ia membangkitkan semangat anti kompeni yang mendapat simpati dari seluruh rakyat Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Untung Surapati memerintah daerah pusat perjuangan itu dengan nama Wiranegara. Sementara di Mataram timbul konflik antara Pangeran Puger (adik Amangkurat II) dengan Amangkurat III (Sunan Mas). Amangkurat III mempunyai sifat anti Belanda, sedangkan Pangeran Pager memihak Belanda. Dalam menghadapi konflik ini, rupa-rupanya pihak kompeni memilih Pangeran Puger. Karena berani memberikan imbalan yang menguntungkan kompeni. Di Semarang VOC dan Pangeran Puger menandatangani perjanjian yang sangat merugikan pihak Mataram sendiri. Puger menjanjikan bahwa semua daerah sebelah Cilosari samapi Cilacap diserahkan kepada kompeni. Demikian juga dengan Madura timur. Setiap tahun Mataram sanggup membayar 800 koyan beras selama 25 tahun. Selanjutnya ditegaskan bahwa ibukota Kertasura kompeni berhak mendapatkan 200 orang tentaranya dalam benteng kompeni.            Setelah dicapainya kata sepakat di antara keduanya, kompeni dan pasukan Pangeran Puger bergerak ke Kertasura. Pangeran Puger dan VOC berhasil memperoleh kemenangan. Pada tahun 1705 Pangeran Puger dinobatkan sebagai Susuhunan dengan nama Pakubuwono I.            Sunan Mas selanjutnya meninggalkan Kertasura dan bergabung dengan Untung Suropati yang bertahan di Kediri, Bangil, Pasuruan, dan Belambangan. Pada pertempuran besar di Bangil, Untung Surapati gugur pada tahun 1706. Perlawanan dilanjutkan oleh putra-putranya dengan gagah berani disertai dengan semangat pantang menyerah.            Setelah pertahanan Surapati dapat dilemahkan  Sunan Mas menghentikan perlawanan dan datang ke Batavia, meyerahkan diri kepada VOC, beliau di tangkap dan di asingkan ke Sailan (1807).            Sementara itu perlawanan keturunan Untung Surapati terus berkobar. Panglima kompeni yang bernama Herman de Wilde berhasil menduduki Pasuruan, ia berhasil menemukan makam Untung Suropati, di bongkarnya makam tersebut dan dibakarnya sisa-sisa jenazah pahlawan perkasa itu dan abunya dibuang kelaut.            Dalam sejarah nasional kita, nama Untung Suropati sungguh menepati kedudukan yang khusus. Ia pejuang yang berasal dari kalangan rakyat biasa, berjuang melawan Belanda tanpa mengeanl menyerah. Semangat juangnya dilanjutkan oleh putra-putranya serta keturunannya. Keturunan Untung Suropati ini gugur satu persatu dalam pertempuran melawan penjajahan Barat di Pulau Jawa atau ditangkap dan diasingkan ke Sailan.            Perlawanan melawan Belanda tidak sampai disitu. Diberbagai tempat telah terjadi pula perlawanan terhadap VOC yang senantiasa berusaha meluaskan daerah jajahannya dan pengaruhnya dengan turut ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan. VOC berusaha mendudukan kepercayaannya atau orang yang dianggap sanggup memberikan imbalan yang menguntungkan VOC atau orang yang bersedia mengakui pertuanan VOC diantaranya :            Di Jawa VOC selalu ikut campur tangan dalam perselisihan mengenai pergantian raja. Dalam sengketa yang terjadi pada tahun 1719-1723 kompeni mendudukan Mangkunegara diatas tahta dengan nama Amangkurat IV. VOC berhasil memadamkan perlawanan terhadap Sunan yang baru diangkat. Dalam peristiwa ini sangat menonjol peranan Pangeran Dipenegoro, Purbaya dan putra-putra Untung Surapati. Perlawanan dapat ditundukkan, mereka diasingkan ke Tanjung Harapan dan Sailan.            Pada pertengahan abad ke 18 kekuasaan VOC diatas Mataram semakin besar. Ketika Sunan Pakubuwono II sakit keras, VOC memaksa pengakuan Sunan menyerahkan Mataram kepada VOC (11 Desember 1749). Kejadian ini membakar perlawanan yang berkobar diseluruh daerah kekuasaan Mataram. Walaupun VOC segera mengangkat putra mahkota Sunan Pakubuwono III, perlawanan tidak dapat dihindarkan (1749-1757). Pihak yang anti kompeni dipimpin oleh Mangkubumi dan Mas Said berhasil memperoleh kemenangan-kemenangan dalam peperangan. Namun, ketika timbul permusuhan antara Pangeran Mangkubumi dengan Mas Said, kompeni berhasil menjalankan taktik memecah belah. Demikianlah Pangeran Mangkubumi bersedia berunding dengan VOC. Ditandatanganinyalah perjanjian Gianti (1755). Hasilnya Pengeran Mangkubumi menjadi Sultan di Yogyakarta, dengan nama Hamengkubuwono I berkedudukan di Yogyakarta dengan nama Adiningrat. Selanjutnya Mas Said, VOC berhasil memaksakan perjanjian di Salatiga (1757). Mas Said mendapat gelar Mangkunegara dengan nama Pangeran Adipati Mangkunegara.            Akibat dari kerusuhan memperebutkan tahta ini, VOC mendapatkan daerah jajahan langsung yaitu Jawa Barat, seluruh utara Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Madura. Kebesaran Mataram lenyap, daerahnya hanya meliputi Yogyakarta (di bawah Hamengkubuwono I), daerah Surakarta (di bawah Pakubuwono III), dan daerah Mangkunegara dalam lingkungan Surakarta dibawah pimpinan Pangeran Adipati Mangkunegara.            Perlawanan terhadap kompeni juga terjadi di Banten. Pada masa Ratu Fatimah, pecah pemberontakan yang dipimpin oleh Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang (1750). Perlawanan Kyai Tapa ini meluas dari Batavia sampai ke Jawa Barat. Pemberontakan Kyai Tapa berhasil membinasakan daerah kolonialisasi Belanda di daerah Cipanan, Cianjur, sehingga sejak itu orang-orang menetap didaerah tersebut.

Pangeran Trunojoyo

Berbicara tentang perjuangan Pangeran Trunojoyo atau Raden Nila Prawata, pahlawan dari Madura ini tidaklah lengkap kiranya kalau kita tidak melihat upaya-upaya Sultan Agung dari Kerajaan Mataram dalam memperluas pengaruhnya dan mempersatukan kerajaan-kerajaan di Jawa dan Madura untuk bersatu-padu melawan penjajahan kompeni Belanda pada saat itu.Tahun 1624, Panembahan Kyai Djuru Kiting selaku panglima pasukan Mataram, dengan kekuatan pasukan berjumlah 50.000 orang, telah berhasil mematahkan pasukan Kraton Arosbaya – Madura yang berkekuatan hanya 2.000 orang.Dengan bijaksana, Sultan Agung memerintahkan panglimanya Kyai Djuru Kiting, memboyong Raden Praseno, putra Pangeran Tengah (Arosbaya) yang pada waktu itu masih dibawah umur ke Kraton Mataram.Setelah dewasa Raden Praseno dinikahkan dengan adik dari Sultan Agung sebagai Permaisuri I dan diijinkan kembali ke Madura untuk memimpin Madura dengan gelar: “Pangeran Cakraningrat I” (1624 – 1648) dimana seluruh Madura berada dibawah pimpinannya dengan tetap tunduk dan patuh kepada kekuasaan kerajaan Mataram Sultan Agung di Jawa.Dari beberapa istri yang lain, Pangeran Cakraningrat I mempunyai 11 (sebelas) orang putra dan putri, dimana putra ke-3 bernama R. Demang Mloyo Kusumo (ibunya Putri Sumenep).[Buku “Sejarah Caranya Pemerintahan Daerah-daerah Kepulauan Madura dengan hubungannya” oleh Zainal Fattah, Bupati Pamekasan – hal: 201].R. Demang Mloyo Kusumo atau Raden Maluyo (dalam buku “Raden Trunojoyo, Panembaham Maduratna, Pahlawan Indonesia” oleh Raden Soenarto Hadiwijoyo) adalah ayah dari Raden Trunojoyo.Masa kecil Pangeran Trunojoyo dididik dan dibesarkan di lingkungan Kraton Mataram yang pada waktu itu pimpinan kerajaan sudah beralih kepada putra Sultan Agung, yaitu: Susuhunan Amangkurat I.Tahun 1648, terjadi peristiwa menyedihkan di Kraton Mataram (masa pemerintahan Susuhunan Amangkurat I) perselisihan keluarga yang menyebabkan jatuh korban anggota keluarga kerajaan Mataram, yaitu:Pangeran Cakraningrat I (Raden Praseno) sehingga disebut Pangeran Siding Magiri (Sidho Hing Magiri).Raden Ario Atmojonegoro putra pertama Pangeran Cakraningrat I.Pangeran Ario atau Pangeran Alit, adik Susuhunan Amangkurat I danRaden Demang Mloyo Kusumo, ayah Pangeran Trunojoyo.Terjadi perubahan kekuasan di Madura Raden Undakan putra ke-2 Pangeran Cakraningrat I dinaikkan tahta kerajaan dengan gelar: “Pangeran Cakraningrat II” (1648 – 1707).Pangeran Cakraningrat II dalam melaksanakan pemerintah kerajaannya ternyata tidak sebijaksana ayahandanya, Pangeran Cakraningrat I. Kekuasaan pemerintahan Madura pada waktu itu hanya diserahkan kepada bawahan-bawahannya yang ternyata hanya melakukan penekanan-penekanan kepada rakyat yang dipimpinnya, sementara Raja Cakraningrat II, terlalu sering berada di Kraton Mataram.Pangeran Trunojoyo tumbuh sebagai seorang pemuda yang taat kepada agamanya (Islam) dan tidak suka melihat ketidak-adilan yang terjadi baik di Madura ataupun di Jawa.Beliau segera kembali ke Madura dimana pengaruh kekuasaan Pangeran Cakraningrat II (pamannya) semakin tidak mendapat simpati dari rakyat seluruh Madura. Mengakui kepemimpinan Pangeran Trunojoyo dari Bangkalan sampai dengan Sumenep dan bergelar: “Panembahan Madura”.Dengan diidampingi Macan Wulung menantu dari Panembahan Sumenep, Pangeran Trunojoyo mulai menyusun perlawanan melawan kompeni Belanda yang dinamakan “Perang Trunojoyo” berlangsung dari tahun 1677 – 1680.[Buku “Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa” oleh: Prof. Drs. H. Aminuddin Kasdi – hal: 146].Pasukan Pangeran Trunojoyo bergabung dengan pelaut-pelaut Makassar dibawah pimpinan Karaèng Galesung (yang pada akhirnya menjadi menantu Pangeran Trunojoyo). Bantuan dari Panembahan Giri merupakan satu kekuatan yang sangat ditakuti oleh kompeni Belanda.Tanggal 13 Oktober 1676, terjadi pertempuran sengit di Gegodok antara pasukan Pangeran Trunojoyo dan pasukan Mataram yang dipimpin oleh Adipati Anom. Dalam perang dahsyat ini telah gugur pimpinan pasukan Mataram, yaitu: Pangeran Purboyo.Satu demi satu daerah kekuasaan kerajaan Mataram berhasil ditaklukkan pasukan Pangeran Trunojoyo.Sementara itu Susuhunan Amangkurat I sangat bersedih atas kekalahan itu, pasukan Mataram yang dipimpin calon Putra Mahkota Kerajaan Mataram tak berdaya menghadapi pasukan Pangeran Trunojoyo.Kompeni Belanda mulai turun tangan mencampuri urusan karena kalau kerajaan Mataram ditaklukkan Pangeran Trunojoyo berarti kompeni Belanda tidak akan punya pengaruh lagi di tanah Jawa.Cornelis Speelman, pada tanggal 29 Desember 1676 berangkat dari Betawi dengan 5 kapal perang dan 1.900 orang pasukan gabungan dari Jepara menyerbu Surabaya. Perang terjadi antara pasukan Pangeran Trunojoyo dan pasukan kompeni Belanda, walaupun akhirnya Pangeran Trunojoyo harus mundur ke Kediri. Sementara pasukan kompeni Belanda terus mendesak ke Madura ke pusat cadangan pasukan Pangeran Trunojoyo, kompeni Belanda berhasil menaklukkan pasukan cadangan Pangeran Trunojoyo di Madura, tapi pada lain pihak pasukan Pangeran Trunojoyo berhasil menduduki Kraton Kartasura.Jatuhnya ibu kota Mataram, karena tidak ada dukungan sama sekali kepada Susuhunan Amangkurat I, bahkan dari para Pangeran dan Bangsawan Kraton Kartasura.Dalam keadaan sakit, Susuhunan Amangkurat I terpaksa harus mengungsi dari Istana didampingi putranya Adipati Anom.Di desa Tegal Wangi, akhirnya Susuhunan Amangkurat I mangkat, jenasahnya dikebumikan di desa itu, sehingga disebut “Susuhunan Tegal Wangi” tapi sebelum mangkat, beliau masih berkesempatan menobatkan putranya menjadi penggantinya dengan gelar: “Susuhunan Amangkurat II”.Secara singkat dipaparkan bahwa Kraton Mataram sepeninggal Sultan Agung, pengganti beliau baik itu Susuhunan Amangkurat I ataupun Susuhunan Amangkurat II tidak dapat menunjukkan wibawa Kraton Mataram sebagai kerajaan besar di Jawa.Sedikit demi sedikit, kompeni Belanda mulai bertipu-muslihat untuk memperkecil pengaruh kekuasaan Mataram, sementara Pemimpin Kraton (Susuhunan Amangkurat II) tidak peduli akan keadaan kerajaan Mataram dan rakyatnya. Wibawa kerajaan Mataram dari hari ke hari mulai suram, akibat ulah Rajanya yang menjalin hubungan dengan kompeni Belanda.Setiap perjanjian-perjanjian kontrak yang dilakukan Kerajaan Mataram dengan kompeni Belanda, selalu pihak Kerajaan Mataram yang dirugikan.Cornelis Speelman, dari pihak kompeni Belanda menawarkan diri untuk ikut memadamkan perlawanan Pangeran Trunojoyo yang sudah tentu nantinya meminta imbalan jasa kepada Kerajaan Mataram.2 (dua) macam perjanjian berupa kontrak tanggal 19 dan 20 Oktober 1677 digadaikannya pelabuhan-pelabuhan Kerajaan Mataram senilai 310.000 uang Spanyol dan biaya-biaya perang harus dibayar lunas yang didapat dari pelabuhan-pelabuhan itu. Yang kedua, daerah-daerah bawahan Kerajaan Mataram seperti Karawang dan Pamanukan dialihkan penguasaannya kepada kompeni Belanda.Di seluruh wilayah kerajaan Mataram, perdagangan candu dan bahan pakaian menjadi hak monopoli kompeni Belanda.Pertempuran tetap berlangsung dengan kemenangan-kemenangan yang selalu ada pada pihak Pangeran Trunojoyo.Tanggal 04 Januari 1678, Cornelis Speelman mencaplok Semarang, Kaligawe dan sekitarnya dengan ijin dari Susuhunan Amangkurat II.Bulan Agustus 1678, dibentuk pasukan gabungan, tentara Belanda, pasukan Jakarta, Bugis dan Ambon ditambah pasukan Mataram dengan jumlah besar dipimpin oleh Anthonie Hurdt, anggota Raad van Indie menyerbu Kediri, pusat pertahanan Pangeran Trunojoyo.Pertempuran berkobar dengan dahsyatnya, setiap jengkal tanah Kediri, dipertahankan mati-matian oleh pasukan Pangeran Trunojoyo, akhirnya 25 Nopember 1678 Kediri jatuh ketangan kompeni Belanda.Kompeni Belanda berhasil mengambil kembali Mahkota Majapahit dan harta-harta yang lain dari Pangeran Trunojoyo ketika menaklukkan Kartasura.Sangat disayangkan bahwa dalam perjalanan perjuangan Pangeran Trunojoyo, ternyata terjadi konflik intern dalam pasukan Pangeran Trunojoyo, Angkatan Laut Makassar memisahkan diri dari pasukan Pangeran Trunojoyo.Dari peristiwa jatuhnya Kediri, Pangeran Trunojoyo ke Blitar dan akhirnya menuju Malang dalam kesulitan mencari tempat pertahanan baru. Pasukan Pangeran Trunojoyo mengalami kerugian tewasnya 400 orang prajurit akibat penyakit dan kekurangan bahan makanan.Lebih-lebih lagi, pengiriman bahan bantuan makanan berupa 8 perahu bahan makanan dari Madura untuk pasukan Pangeran Trunojoyo jatuh ketangan musuh.Tekanan dan kepungan kompeni Belanda kepada pasukan Pangeran Trunojoyo yang sudah makin melemah karena kekurangan bahan pangan dan serangan penyakit semakin berat. Beliau terpaksa membawa memutar pasukannya berpindah ke Batu. Dalam keadaan prihatin, Pangeran Trunojoyo tetap berhati teguh melanjutkan perjuangan beliau dan dukungan dari daerah-daerah seperti Kediri, Ponorogo dan Kertosono tetap berpihak kepada Pangeran Trunojoyo dan pasukannya 500 orang prajurit Madura dikirim melalui Wirosobo ke Malang untuk memperkuat barisan Pangeran Trunojoyo.Suatu goncangan bathin kembali menguji sang Pangeran ketika di Batu istri beliau meninggal dunia karena terserang penyakit menyusul kemudian satu-satunya putra lelakinya juga berpulang ke Rahmatullah.Dari Batu beliau beliau beserta pasukan bergeser mengatur strategi pertahanan ke Ngantang, sementara semakin lama jumlah kekuatan pasukan semakin berkurang, kekurangan bahan pangan dan serangan penyakit.Masih beruntung alam dan medan pegunungan serta rimba di Ngantang menghambat laju tekanan pasukan kompeni Belanda.Kompeni Belanda melakukan sistem pengepungan pagar betis daerah pertahanan pasukan Pangeran Trunojoyo dikepung dan diisolir sehingga pada tanggal 15 Desember 1679 sejumlah besar para pelaut Makassar yang bergabung ke pasukan Pangeran Trunojoyo menyerahkan diri kepada kompeni Belanda.Berbagai keadaan yang berat, tidak membuat Pangeran Trunojoyo dan pasukannya menyerah. Pahlawan tangguh dan pilih tanding ini melakukan perang gerilya, bergerak pindah ketempat yang lebih sulit dicapai oleh tentara kompeni Belanda dibawah pimpinan Couper.Untuk penyegaran, kompeni Belanda mengganti pimpinan pasukannya, yaitu: Kapten Jonker. 5 hari setelah sebagian besar pelaut-pelaut Makassar menyerah maka pada tanggal 20 Desember 1679 beberapa ratus orang Madura dan Makassar diantaranya para wanita dan beberapa ekor kuda turun dari lereng gunung dan segera ditangkap pasukan kompeni Belanda pimpinan Kapten Jonker.Dengan mengorek keterangan dari para tawanan ini, Kapten Jonker berhasil mengepung pertahanan terakhir Pangeran Trunojoyo dan sisa pasukannya di gunung Limbangan itu terjadi pada tanggal 26 Desember 1679.Pahlawan Besar Pangeran Trunojoyo dengan terpaksa harus menyerah dan kedua tangan beliau diikat dengan Cinde Sutera dan pada hari Selasa Kliwon, tanggal 2 Januari 1680 disekitar tapal batas Kediri beliau gugur sebagai kusuma bangsa ditangan iparnya sendiri (Susuhunan Amangkurat II) dengan sebilah keris yang ditusukkan tanpa perlawanan.Perang Trunojoyo, melawan kompeni Belanda boleh berakhir 327 tahun yang lalu tapi semangat juang yang tinggi dan cita-cita tak berkompromi dengan penjajah (bahkan orang-orang asing) yang merugikan bangsa Indonesia tak seharusnya pudar.Ada beberapa hal penting yang harus diketahui :Pangeran Trunojoyo mengakhiri perlawanan kepada kompeni Belanda karena pertimbangan-pertimbangan yang dijanjikan oleh Pangeran Cakraningrat II (pamannya).Pangeran Trunojoyo menyerahkan diri kepada Susuhunan Amangkurat II bukan kepada kompeni Belanda.Naskah sejarah ini, diambil dan disusun dari :Buku Gedenk Boek atau Buku Kenangan dalam memperingati 30 tahun R.A.A. Cakraningrat menjabat sebagai Bupati Bangkalan tertanggal Pebruari 1936.Terjemahan bebas: R.H. Kamaroeddin, mantan Sekwilda Bangkalan periode 1958 – 1980.Buku “Sejarah Caranya Pemerintahan Daerah-Daerah di Kepulauan Madura dengan Hubungannya” oleh Zainal Fattah, Bupati Pamekasan tanggal 4 Maret 1951.Buku “Raden Trunojoyo, Panembahan Maduratna, Pahlawan Indonesia” oleh Raden Soenarto Hadiwijoyo tanggal 8 Desember 1956.Buku “Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa” oleh: Prof. Drs. H. Aminuddin Kasdi. ]sumber: http://www.tretans.com/2012/10/sejarah-perjuangan-pangeran-trunojoyo.html

Sultan Agung Harnykrakusuma

Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593 - 1645) adalah raja Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645.Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu. Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia.Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Sultan Agung merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati.Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Pada awal pemerintahannya, Mas Rangsang bergelar Panembahan Agung. Kemudian setelah menaklukkan Madura tahun 1624, dia mengganti gelarnya menjadi Susuhunan Agung atau disingkat Sunan Agung.Pada 1641 Sunan Agung mendapatkan gelar bernuansa Arab. Gelar tersebut adalah Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram, yang diperolehnya dari pemimpin Ka'bah di Makkah. Sultan Agung naik takhta pada tahun 1613 dalam usia 20 tahun. Pada tahun 1614 VOC (yang saat itu masih bermarkas di Ambon) mengirim duta untuk mengajak Sultan Agung bekerja sama namun ditolak mentah-mentah.Pada tahun 1618 Mataram dilanda gagal panen akibat perang yang berlarut-larut melawan Surabaya. Meskipun demikian, Sultan Agung tetap menolak bekerja sama dengan VOC.Menyadari kekuatan bangsa Belanda tersebut, Sultan Agung mulai berpikir untuk memanfaatkan VOC dalam persaingan menghadapi Surabaya dan Banten. Maka pada tahun 1621 Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC.Kedua pihak saling mengirim duta besar. Akan tetapi, VOC ternyata menolak membantu saat Mataram menyerang Surabaya. Sultan Agung pantang menyerah menghadapi penjajah yang sangat kuat. Dia mencoba menjalin hubungan dengan Portugis untuk bersama-sama menghancurkan VOC-Belanda. Namun hubungan kemudian diputus tahun 1635 karena menyadari posisi Portugis saat itu sudah lemah.Seluruh Pulau Jawa akhirnya berada dalam kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC-Belanda. Sedangkan desa Banten telah berasimilasi melalui peleburan kebudayaan.Wilayah luar Jawa yang berhasil ditundukkan adalah Palembang di Sumatra tahun 1636 dan Sukadana di Kalimantan tahun 1622. Sultan Agung juga menjalin hubungan diplomatik dengan Makassar, negeri terkuat di Sulawesi saat itu. Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar tidak hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian.Negeri-negeri pelabuhan dan perdagangan seperti Surabaya dan Tuban dimatikan, sehingga kehidupan rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian. Sultan Agung juga menaruh perhatian pada kebudayaan.Dia memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram. Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah berbau mistis, berjudul Sastra Gending. Di lingkungan keraton Mataram, Sultan Agung menetapkan pemakaian bahasa Bagongan yang harus dipakai oleh para bangsawan dan pejabat demi untuk menghilangkan kesenjangan satu sama lain.Dengan demikian diharapkan dapat terciptanya rasa persatuan di antara penghuni istana. Menjelang tahun 1645 Sultan Agung merasa ajalnya sudah dekat.Dia membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja Kesultanan Mataram mulai dari dirinya. Sultan juga menuliskan serat Sastra Gending sebagai tuntunan hidup trah Mataram.Sesuai dengan wasiatnya, Sultan Agung yang meninggal dunia tahun 1645 digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Sayidin sebagai raja Mataram.Riset dan analisis oleh Vizcardine Audinovic

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...