Siapakah aneka jiwamu
Tahan hidup memendam rasa
Tidak sekedar rasa
Mungkin sisa waktu mengejar cinta
Pecah kaca cermin
Hancurkan pikiranmu
Mungkin merakus darahmu
Pastikan petir tersambar
Seperti bakar jiwamu
Jember, 27 Juni 2017
Blog ini mengambarkan isi suasana dunia semakin senang dan kadang sedih. Sejujurnya puisi dan prosa mengoptimalkan gambar fisik maupun alam sekitar. Langit dan Bumi menciptakan kepada tuhan yang maha pencipta. Penulis di tengah disabilitas membuat lingkaran terhadap dunia serasa terisi dan akherat akan mengingat cerita selama hidup. Akhirnya karya akan ku sampaikan untuk selamanya
Siapakah aneka jiwamu
Tahan hidup memendam rasa
Tidak sekedar rasa
Mungkin sisa waktu mengejar cinta
Pecah kaca cermin
Hancurkan pikiranmu
Mungkin merakus darahmu
Pastikan petir tersambar
Seperti bakar jiwamu
Jember, 27 Juni 2017
Pesan cinta yang terakhir
Sebelum meninggalkanmu
Bukan hanya pergi
Tak lepas kembali suci
Kini meninggalkan segala duka
Serasa dunia begitu cepat waktu
Cium terakhir untuk mengungkapkan cintamu
Jember, 28 Juni 2017
Mudik telah kembali di kampung halaman
Sayang ditengah nyawa tak tertolong
Membuat manusia makin tragis
Inilah duka cita
Atas menyungguh luka
Dan matinya organ tubuh
Mungkin menjadi penanda terakhir
Sebelum mengucap selamat tinggal
Ditengah perjalanan menuju kota tujuan
Jember, 27 Juni 2017
Diendap seribu ego
Beragam perasaan di tiap daerah
Memanggung jiwa di belenggu
Ucap sejuta kalimat
Mengerut hati serta batinmu
Di dapatkan ketika hari akhirmu
Jember, 27 Juni 2017
Padatnya pintu masuk
Tiba di kebun binatang
Dipadati pengunjung dari ujung sana
Berbondong-bondong disaksikan binatang yang sedang menghibur pengunjung
Di dalam kandang tak mau berfoto bersama
Sentuh tubuh hewan namun tak boleh mengganggu
Jika sentuh keras tanggung resiko pengunjung
Sampah berserakan
Kuah melumuri tanah
Asap rokok merabat kemana-mana
Serba kacau dibuat kegaduhan
Kebun binatang bukan tempat piknik
Hal lainnya kebun milik lingkungan
Binatang dihibur lalu seusai dari sini rasanya disayangi satwa
Jember, 28 Juni 2017
: Nora Nur Hasanah
Sentuh udara dimatamu
Ketuk pintu angin mencium wangi
Tiup aroma bunga mawar
Serap hatimu senyap terbang di angkasa
Tak bisa kemana-kemana
Kecuali kamu memujamu
Kepada pujangga hati
Tak akan pergi
Sebelum menoleh halusan hatimu
Jember, 27 Juni 2017
: Dinny Ramayani
Lebarkan kain gamis
Seperti lavender mengayup di udara
Wangi aroma tercium indah
Bagai bunga menabur sejuta warna
Tergemis taman begitu redup
Memesona cantikmu
Kian mengipas kainmu
Jember, 27 Juni 2017
: Kepada Ira Madan
Diawali ketika aku belajar di Pesantren
Meski latar belakang ditengah kemiskinan
Orang tua memperjuangkanmu
Pertama-tama bersapa dengan kawanmu
Andaikan rasa persaudaraan
Rasanya ilmu sedikit sulit dibayangkan
Karena ulahmu
Lama-kelamaan terbiasa
Setiap termenung pada minat dan bakat
Pura-pura jatuh cinta
Cahaya subuh diukir dalam sebaris sujud
Tanpa disangka cinta semanis surat
Menuliskan di pucuk pemikiranmu
Dimuat pada sebuah majalahnya
Akhirnya ku tahu menceritakan melalui novel
Tentang perjalanan cinta di pesantren
Diterbitkan sebuah buku
Rasa persaudaraan telah kembali
Bersama canda tawa bersiung ceria
Jember, 26 Juni 2017
Mengisahkan perjalanan sang penyair
Dari puisi ditulis selama setahun
Melejit di media
Bahu-membahu mengirim puluhan puisi
Surat pengantar redaksi terbang di suatu daerah
Keluar rumah sambil membawa puisi
Dengarkan puisi dari perahu ke perahu
Lirik demi lirik dikumadangkan melalui berbagai syahdu
Chairil Anwar
Sapardi Djoko Damono
Rendra
Aan Mansyur
Dee Lestari
Dan seterusnya
Puisi pembawa inspirasi
Andaikan sang pencerah mewarnai keakraban
Bersamamu hingga akhir waktu
Jember, 26 Juni 2017
Bangkit dari tidurku
Sayang ditengah kesakitan
Lutut hendak keseleo
Sambil beriuh kelumpuhan
Tiada pulih sebelum mati
Telah memusar tanganmu
Sekecil harapan tetap terbaik
Jember, 26 Juni 2017
Matahari dipancar pagi
Diawali sinar panas
Menjemur berbagai pakaian
Dicium kain wangi
Meski tengah bekerja
Kulit berkeringat setiap saat
Andaikan lelah merayup dirimu
Sirami air panas memancar hangat
Jember, 27 Juni 2017
Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...