Tuesday, 13 March 2018

Melawan Pria Malas

Membendung hujan para pria
Menghisap rokok di pinggir jalan lalu buang di sembarang tempat
Mampu menjaga dari malam hingga pagi
Seraya mengisahkan di antara lelaki yang menipu perhatian para penumpang
Kadang mencuri tanpa izin lapor
Entah generasi sekarang sudah begitu
Anyaman hati selalu memendam kebencian
Tak sadar jangan meremehkan suatu alat yang belum dijumpai

Surabaya, 2018

Membenci Sepi

: kepada Fey Chandra

Sepi mengusir
Entah pikiran hampir melejit
Seiring sakit melambung di ujung keramaian
Membenci langit pada pusaran cinta
Serantai ikat ketika purnama telah memanjatkan malam
Lalu mengutuk jadi apa
Sunyi melenyap tak kira mematikanmu
Sepanjang normal tersiang oleh waktu

Surabaya, 2018

Pasrah Ditinggal Sang Pejuang Pena

: kepada Muhammad Hidayat

Pasrah meninggalkan segala pelukan
Lelaki pemberani dibersamai oleh lelaki lain
Menyambut antusias pada mentari Losari
Sembari mengudara jalan dipandang oleh sekelincir angin sepoi-sepoi
Lebih dari itu akan tercemara lalu bermain bersama
Mengejar sinar kecil semasa usia paling menyenangkan dalam hidupku
Mengumpat kenangan dierat kerangka rindu
Mengusap malam diikat jatuh dari langit
Sabda dierat oleh berkuasa melalui senyuman manismu

Surabaya, 2018

Selamat Menempuh Kehidupan Baru

: kepada Novita S Maliha

Habiskan pagi di sela-sela bersyiar di taman Bungkul
Kabarnya si penyair pamungkas dari kota pempek telah mempelai pria
Ia akan menempuh hidup baru entah perjalanan menulis masih berlanjut atau tidak
Misalnya mengairahkan pancaran rindu
Setelah menyegarkan di Bandung hampir tak berjumpa
Bersinyalir pada langit Sumatera
Selama ini aku telah membantu sang penyair
Meski bahasa tak tentu lancar
Selamat menempuh kehidupan baru kepada keluarga penyair

Surabaya, 2018

Kondangan Di Tengah Hujan

Hujan deras melanda kota
Rintik hujan begitu banyak kian menghadiri kondangan
Seiring menepis di tempat berlindung
Kain dikenakan bernuansa budaya
Bergaun mirip bangsawan
Di perjalanan selalu mewarnai kekhawatiran
Sesungguhnya hujan itu menganggu aktivitas
Tiada memungkiri bahwa hujan memberkahi manfaat
Cepat-cepat terang lalu segera menyalami para pasangan menikah
Menyelami peradaban lalu dicium satu per satu
Pulanglah sambil menunggu hujan reda lalu kembali ke rumahmu

Surabaya, 2018

Larangan Bercadar

Belakangan ini larangan bercadar telah menjadi wacana terluas di ranah publik
Tidak tahu, kampus bernaungi Islam telah menyindir sebuah pandangan
Kenapa muslimah hendak bercadar di tengah kemauan diri sebagai penjaga kokok keislaman
Seakan-akan dinilai teroris
Seimbangkan antara wanita muslimah biasa dengan bercadar
Di lingkungan kampus islam tidak boleh bercadar
Penjabat tiada larangan bercadar, hanya satu catatan
Menjaga etika kebangsaan, dan menaati komponen dasar negara
Iman tetap saja boleh
Nyawa akhlaq dipertahankan
Seiring memperkokohkan spiritualisme bangsa dan negara
Bercadar digunakan di bawah kewenangan diri sendiri

Surabaya, 2018

Thursday, 8 March 2018

Kitab Persahabatan Langka

Selama dua belas tahun telah berpelukan dengan kawan lama
Serangkaian dua belas tahun dirangkum menjadi kitab persahabatan langka
Sederai angin yang merekam catatan
Putih merah segumam kenakalan
Putih biru sebatas menghafal setiap nama
Putih abu-abu menguji cobaan melawan kenakalan, dan etika tak terpuji
Serasa merangkul jadi satu paket dalam album perasaan
Inilah aku bisa mewarnai setiap perekaman masa lalu
Sekarang menjumpai pada perbedaan lokasi
Suatu saat akan berjumpa lagi tiap saat

Surabaya, 2018

Fitri, Kemanakah Kau?

: kepada Fitri Areta

Fitri
Selama enam bulan menghilang
Entah kemanakah ia pergi?
Tidak sempat bertatap muka denganmu
Ku mengalir setiap pertemuan ditemani hangatnya teh
Bersenyap pada nostalgia
Luangkan waktu bersapa denganku
Temui waktu yang berjelaga di lautan rindu

Fitri
Ingin hanya segelap emas yang menangkai cahayamu
Rasakan renungan saat kecil tergores air mata
Mungkin hanya tersisa waktu
Nikmati melodi lagu anak kecil sesaat malam penuh keheningan
Ini saatnya untuk rekreasi kebaikan demi apa yang diperoleh olehmu

Surabaya, 2018

Yurna, Ku Menemani Senanjung Purnama

: Yurna Jingga Sitara

Yurna
Ku bedebah bersiang pada padang bulan
Tersuluh padi seperti belalang di wajahmu
Lelapkan tidurmu seperti mimpi benderang
Celahkan senyumanmu sampai peka
Andaikan saja memikat di hatimu

Yurna
Ku persembahkan untukmu sebuah lagu melodi
Andaikan melodi melayang merta di ujung sunyi
Menemanimu selalu ditebarkan tisu kenangan
Ku berjanji akan menatap wajah padamu setiap saat
Yakini ku tahu bahwa tinggi hanya nafas hirup
Mengudara kalbu yang menguras pelukan
Demi kamu dan setangkai cantikmu

Surabaya, 2018

Sabda Duka

Sesuai firman tuhan bahwa mati adalah segala takdirmu
Tiada pilihan memilah satu kali lagi sebelum meninggalkan kenangan
Hampir tak berdaya entah apa yang telah diberlakukan
Jatuh menimbang catatan ia diterima
Bukan saja melalaikan segala takaran
Setiap jutaan beban yang belum sempat tertuntaskan
Nihil tanpa bukti janji ibadah
Begitu pula rayap-rayap akan mengakhiri perjumpaan
Hidup tak mampu melangkah jutaan tahun
Selamanya tak bisa apa-apa

Surabaya, 2018

Sebiji Duka

Sedayang luka memar membujuk korban
Tertimbun ambruk tak layak dilewati
Seandainya melintasi harapan yang mengucap segalanya
Entah bagaimana memanfaatkan sepi yang mengaitkan dengan emosi
Sepenuh tak percaya bahwa seseorang hendak merenggoh ilmunya
Bukan tulisan dibaca tetapi merobohkan tiap kata
Terkagumi serpihan tak tersemburi bahagia terhadap rakyat
Tiada memberdayakan saya sebagai keagungan tuhan

Surabaya, 2018

Pemuda Pulang Kampung walau Orang Tua Tiada

Pemuda itu berjalan, langkahnya berat dan lesu, Di kota besar, dia mencari pekerjaan, namun tak kunjung berhasil, Hatinya penuh kekecewaan, ...